Mitreka Satata dan Adipati Sengguruh - 2

Menyambung tulisan terdahulu, dalam tarian jemariku di atas tuts komputer kali ini, aku akan tampilkan beberapa foto dari pagelaran Adipati Sengguruh.

Ini adalah foto dari sebagian besar pemain sebelum pentas dimulai:
Ini adalah Cak Iwan sebagai Sunan Giri. Cak Iwan, gampang ketebak amergo brengos-e, kuwi pancen cirine Cak Iwan...
Lha yen iki critanya semua pemain lagi melakukan dialog.
Last but not least, ini adalah foto favoritku, Alyssa Soebandono (sayang ora ke-close-up ya)..
Dian

F1 Monaco - 2008

Tepat pukul 19:00 WIB gelaran hajat besar Jet Darat dimulai, yang ditandai dengan padamnya kelima lampu start di Monaco. Balapan ini adalah untuk yang kesekian kalinya diadakan di jalanan Monaco yang terkenal akan sempitnya, sedikitnya ruang untuk over-taking, seringnya terjadi kecelakaan akibat perpaduan kecepatan mobil-mobil Formula 1 dan sempitnya trek.

Kali ini balapan dimulai dengan hujan yang cukup deras dan membuat hatiku dag-dig-der karena takut terjadi apa-apa dengan jagoanku dari Ferrari, Felipe Massa. Dari hasil kualifikasi kemarin, duo Ferrari, Massa dan Raikkonen menempati grid terdepan dan duo McLaren, Hamilton dan Kovvalainen dan disusul dengan pembalap fenomenal tahun ini Robert Kubica. Dia terkenal fenomena karena dietnya yang cukup ketat untuk meringankan beban mobil dan bagaimana dia bisa hampir selalu ada di podium dibandingkan kandidat juara, Raikkonen ataupun Hamilton.

Di bagian awal, duo Ferrari telah diselingi oleh Hamilton yang dengan cerdiknya mencuri celah diantara Massa dan Raikkonen sehingga dia dapat menyodok ke posisi kedua. Kemudian Hamilton tersandung masalah jalanan yang licin sehingga dia melorot ke posisi tengah, namun nantinya dengan sedikit kecorobohan Massa dan Kubica, maka dia menjadi juara di Monaco. Race ini penuh dengan tabrakan, mobil yang mlintir, yang bisa mengakibatkan hasil yang ada disini tidak akan pernah dapat diprediksi. Secara umum, dikarenakan minimnya overtaking maka hampir dipastikan pembalap yang menduduki posisi satu akan menjadi juaranya. Namun alangkah sayangnya Massa yang mendominasi balapan ini melakukan sedikit kesalahan dan membuat mobilnya mlintir dan membuat celah bagi Hamilton yang dengan riangnya memanfaatkannya. Selain itu Kubica juga hampir menjadi juara baru disini, jikalau saja dia bisa konsisten menjaga posisinya.

Akhir lomba, Hamilton menjadi juara disini, diikuti oleh Kubica dan Massa. Hasil disini menjadikannya kembali memiliki peluang menjadi juara dunia tahun 2008 dengan perolehan nilai sementara 38, disusul oleh the Ice Man, Kimi Raikkonen dengan nilai 35 dan Felipe Massa dengan nilai 34. Hasil ini masih bisa berubah karena masih banyak race dan kejadian yang tidak dapat diprediksi sebelumnya. Sementara itu, dari sisi konstruktor, Ferrari masih berada di puncak klasemen dengan nilai 69, diikuti McLaren Mercedes 53 dan BMW Sauber 52.

Sampai ketemu lagi 8 Juni 2008 di Canada.

-Dian-

Mitreka Satata dan Adipati Sengguruh

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itupun tiba, hari pementasan pagelaran seni Adipati Sengguruh hasil kolaborasi antara para warga Mitreka Satata, SMA N 1 Malang, dengan Alumnus ITB, Puspo Budoyo dan beberapa artis Ibukota, Jum'at, 23 Mei 2008. Pementasan rencananya akan dilakukan di Gedung Kesenian Jakarta. Terus terang baru kali ini aku memasuki gedung ini. Selama ini sich sudah sering aku melewatinya dalam perjalananku dari area Jakarta Pusat menuju Sudirman, Thamrin, Jakarta Selatan, ataupun tempat-tempat lainnya.

Merujuk ke sejarahnya gedung ini telah ada sejak jaman penjajahan Inggris di Indonesia. Waktu itu Sir Thomas Raffles yang sangat mengapresiasi kesenian lokal Indonesia membuat suatu gedung kesenian sederhana yang terbuat dari bambu yang dinamakan "Military Theater Venue" di Weltevreden. Kemudian didukung oleh pemerintahan Belanda, gedung ini direnovasi menjadi suatu gedung pertunjukan seni permanen dengan ukuran 144 X 160 feet yang dikenal dengan nama "Schouwburg Weltevreden", atau artinya Teater (Gedung Kesenian) Weltevreden. Nama ini mengalami beberapa perubahan menjadi "Gedung Kesenian Pasar Baru", "Gedung Komidi - Comidie Gebouw" dan "Schouwburg". Dan akhirnya sejak tahun 1987 namanya menjadi Gedung Kesenian Jakarta sampai detik ini.

Karena ini kali pertama, rasanya gimana gitu. Rasa-rasanya nich gedung ngawasin aku seolah-olah dia mau bilang "Eh sapa nich? Sering lewat gak pernah mampir. Kayak peribahasa Jawa "Kecipir merambat kawat. Masiho gak mampir asal liwat." Bukan angker yang kurasakan, namun ada wibawa tersendiri pas masuk ke gedung. Kewibawaan yang jarang kita temukan di Ibukota ini dikarenakan banyak sudah gedung-gedung lama yang digusur digantikan dengan gedung-gedung pencakar langit, penuh kaca yang menambah cepat pemanasan global; menyumbang percepatan cairnya es di Kutub dan menambah panas hawa Jakarta yang dikeluarkan oleh peralatan AC yang memenuhi gedung-gedung itu.

Aku masuk dari arah belakang dan pertama kali aku temuin adalah deretan poster-poster yang menggambarkan bahwa gedung ini pernah menjadi gedung yang cukup bergengsi di Ibukota ini. Untuk menjadi tamunya musti pake pakaian formil, dengan dress code tertentu, misalnya dengan setting Betawi Tempoe Doeloe dan lain sebagainya. Dari sekian banyak poster yang tergantung aku tertarik dengan poster pementasan Naga Bonar. Dalam poster itu digambarkan Sang Saka Merah Putih sedang disetrika pake setrikaan model dulu yang pakai arang. Sebelum nyetrika, kita musti bakar arangnya dan menjaga agar percikan api dari arang itu tidak mengenai kain yang sedang kita setrika karena bisa keliatan bolong-bolong kecil percis kaya baju temenku yang bolong kena percikan api rokoknya.

Pas aku dateng, sekitar jam 15:00 JKT Time, sedang dilakukan persiapan untuk pementasan nanti malam. Ada beberapa pohon yang ditebang dan ditancepin ke besi biar bisa berdiri tegak. Di panggung sudah dibuat ada makam, dihiasi dengan pohon kamboja dan beringin (rasa-rasanya dua pohon ini wajib ada ya di setiap area pemakaman jaman dulu dech...). Beberapa hasil bidikanku dengan menggunakan Telepon Sellular Kamera. Selain itu aku juga sempet ngambil gambar peralatan pendukungnya kayak gendang dan temen-temennya. Tak lupa, aku ambil gambar area tempat duduk yang melingkari area panggung. Hmmm... jadi kebayang gimana suasana pentas malem nanti...






Kalau mau joint milist Alumni Mitreka Satata ataupun our Network bisa gunakan tools yang ada disebelah.

-Dian-

Re-Launching Tintin versi Gramedia Pustaka Utama

Hari Sabtu, 17 Mei 2008 kemarin ada sesuatu yang tidak biasa di Toko Buku Gramedia Pondok Indah. Begitu pengunjung memasuki area toko buku disambut dengan gambar yang cukup besar dari Tintin dan si Milo (dulunya adalah Snowy versi terbitan Indira). Ada apa nich? Itu mungkin selintas pertanyaan dari para pengunjung Gramedia PI. Setelah mengamati sesaat, oooo lagi ada launching buku baru ya? Lho koq tentang Tintin? Emangnya ada seri terbaru? Lho koq ada si Boim Le Bon itu ya? Trus ada si Lia Ananta yang mungil tapi cantik itu ya? Doski suka baca Tintin ya? Itu yang pake kaos Tintin ID sapa ya?Mungkin itu beberapa pertanyaan tambahan yang ada di benak pengunjung siang itu.

Ya, hari itu GPU sedang menggelar perhelatan peluncuran kembali
komik Cerdas "Petualangan Tintin". Dulu serial ini diterbitkan oleh penerbit Indira, namun sekarang serial ini diterbitkan kembali oleh Gramedia Pustaka Utama sebagai pemegang lisensinya di Indonesia dari pihak Casterman Belgia.

Ini adalah salah satu komik cerdas yang pernah dibuat oleh pengarang Herge yang bisa membawa pembacanya melanglang buana ke hampir semua benua tanpa perlu meninggalkan kamar atau ruangan baca. Dengan membaca komik ini Kita bisa mendapatkan banyak pengetahuan soal politik, negara lain bahkan sampai pergi ke bulan. Untuk penerbangan ke Bulan ini, serial Tintin boleh dibilang telah mempermalukan Amerika, karena jauh sebelum Amerika mendaratkan astronautnya di bulan dengan awak Neil Amstrong, Tintin dan kawan-kawannya, Prof. Lakmus, Capt. Haddock, Dupond dan Dupont telah berhasil mendarat di bulan dan kembali ke bumi dengan selamat.

Selain itu dalam komik ini kita juga turut berbangga hati karena Herge mencantumkan negara kita, Indonesia sebagai salah satu negara yang dikunjungi Tintin, Prof. Lakmus, Milo dan Capt. Haddock dalam perjalanannya ke Australia guna menghadiri seminar. Dikisahkan pada waktu itu penerbangan ke Sydney, singgah di lapangan udara internasional Kemayoran di Jakarta. Dan dalam kisah yang berjudul "Penerbangan 714 ke Sydney" ini pulalah kita dapat menemukan bahwa Indonesia waktu itu telah masuk dalam kancah percaturan dunia internasional, dimana ini digambarkan bahwa ketika pesawat yang ditumpangi oleh Tintin dan kawan-kawan mengalami kerusakan, area terjadinya adalah di FIR - Flight Information Range Makassar/Ujung Pandang.

Dalam acara kemarin, anakku yang turut serta hadir, memberikan sedikit protesnya, "Pa, koq Tintinnya gak ada? Gak kayak show Bob the Builder kemarin di Pondok Indah.... Ada Bobnya, ada Wendy dan teman-temannya". Aku cuman nyengir aja ngedengernya dan membuat berpikir mungkin acara ini akan lebih meriah lagi jika dimunculkan karakter Tintin dalam suatu show di area Pondok Indah 2. Pastilah itu akan membuat anak-anak senang dan secara tidak langsung menanamkan dalam pikiran untuk suka dengan Tintin. Sebagaimana yang sering dilakukan oleh restoran cepat saji Mc Donald yang dengan pintarnya menanamkan bahwa restoran merekalah yang pertama musti diingat kalau mau makan di luar dengan orang tua.

Secara general aku liat acaranya cukup berhasil memberitahukan kepada khalayak ramai bahwa komik terkenal Tintin sudah diluncurkan kembali. Komik ini adalah salah satu komik yang bisa dibaca dari tingkat anak-anak sampai tingkat orang tua sebagai terlihat di Gramedia PI antusiasme para Tintin fans yang beragam dari usia muda sampai tua. Mungkin lain kali jika GPU telah memiliki kerjasama yang sangat baik dengan Casterman akan memungkinkan lebih mengembang kan lebih jauh produk-produk Tintin ini. Dimana tidak hanya dengan menjual bukunya saja, tapi hingga ke produk-produk turunannya seperti merchandise aslinya, mobil-mobil kecil yang dipakai selama serial Tintin, pesawatnya, kaos, DVD filmnya dan lain sebagainya. Ketika itu terjadi, alangkah baiknya jika GPU bisa membuat acara seperti Show Bob the Builder.

Akhirkata, selamat datang kembali ke Indonesia Tintin-ku, semoga generasi muda sekarang bisa banyak belajar hal positif darimu dan membawa mereka menjadi generasi muda yang unggul baik di dalam maupun di luar negeri, saling bahu membahu membangun negeri. Sebagaimana yang sudah ditunjukkan oleh para pendahulu kita pada 20 Mei 1908 yang lalu.

Foto-foto yang lain dari acara ini bisa dilihat di Foto

Videonya bisa dilihat di Video1 atau Video2

Terima kasih untuk Iful atas foto-fotonya dan rekan-rekan semuanya di Tintin ID Fans Yahoogroups.

-Dian-

PARIS, Je t'aime......


Akhirnya malam minggu ini, aku berkesempatan juga untuk menikmati film yang sudah kubeli beberapa waktu yang lalu. Judulnya adalah "Paris, Je T'aime" yang artinya, "Paris, Aku cinta kamu". Dari sejak pertama ku melihat film ini diiklankan di media massa di salah satu megaplex di Jakarta, pengen sekali rasanya aku menontonnya, namun waktu jualah yang membuatku tidak bisa menikmatinya di versi layar lebarnya. Oleh karena itu kuingin pula menyampaikan terima kasih kepada CCF (Centre Cultural Francais - Pusat Kebudayaan Perancis) Jakarta yang telah mendukung agar film ini dapat dinikmati oleh khalayak ramai dalam bentuk DVD Original.

Daya tarik aku untuk membeli DVD ini di salah satu toko buku yang menjual buku-buku asing di salah satu pusat perbelanjaan megah yang terhubung dengan salah satu Jaringan Hotel International di Bunderan HI (Hotel Indonesia), adalah deretan para pemeran dalam film ini yang terdiri atas:

  • Elijah Wood (Kukenal dia lewat Trilogy "Lord of the Ring" yang terkenal itu)
  • Natalie Portman (kukenal dia lewat Trilogy yang sudah melegenda "Star Wars")
  • Juliette Binoche (kukenal dia lewat film non Hollywod, English Patient, yang pernah memenangkan Piala Oscar)
  • Maggie Gyllenhaal
  • Gerard Depardieu (Aktor terkenal Perancis yang kukenal semasa aku belajar Bahasa Perancis di CCF Surabaya, dan dari film terkenal yang kusuka, "Asterix and Obelix").
  • Nick Nolte (Aktor kawakan yang tetep menawan aktingnya hingga kini)
  • Ludivine Sagnier
  • Bob Hoskins
  • Steve Buschemi
  • Willem Dafoe (Aku selalu teringat karakter yang dimainkannya dalam "Platoon").
  • Gena Rowlands (Aktris yang baru kukenal dari film Notebook yang cukup mengaduk-aduk emosiku).

dan secara keseluruhan film yang berdurasi 110 menit dan memakai Bahasa Perancis dan Inggris serta subtitle kedalam Bahasa Inggris dan Indonesia, disutradarai oleh tidak kurang dari 20 orang, mengambil tempat di 18 distrik/wilayah (Arrondisement) di Paris. Selain itu film ini dibuat dengan biaya tidak dari US$ 16 juta memberikan kesulitan yang cukup berarti untuk setiap sutradara. Dimana mereka dituntut untuk menampilkan atau mewakili arrondisement yang telah ditetapkan, serta hal itu ditampilkan dalam suatu scene atau fragment yang berdurasi 5 - 6 menit. Tantangan berikutnya adalah cuaca di Paris ketika film ini dibuat yang kadang hampir seharian turun hujan sehingga tidak memungkinkan untuk pengambilan gambar. Perlu juga untuk diingat bahwa para sutradara itu hanya diberikan kesempatan untuk melakukan syuting selama 2 hari penuh di arrondisement tersebut. Selain itu ada juga kesulitan lainnya seperti yang diungkapkan oleh sutradara Richard La Gravenese untuk arrondisement Pigalle yang sudah terkenal sebagai "Red Light District-nya Paris". Dalam kurun waktu dua hari mereka harus menyelesaikan film yang berkualitas tinggi. Sementara di lain pihak, menurut sutradaranya penduduk Paris amat suka bersenang-senang di bar dan rata-rata bar yang ada disana baru tutup jam 05:00 pagi sehingga menyulitkannya untuk merekam suara dan pengambilan gambar. Selain itu ketika tahu ada proses pembuatan film di area ini, maka seringkali para pemilik bar semakin mengeraskan suara music yang menghentak di barnya sehingga sedikit banyak semakin mempersulit pembuatan film ini.

Untuk diketahui Paris sendiri terdiri atas 20 arrondisement, dan rencananya film ini akan mewakili arrondisement-arrondisement tersebut, yang masing-masing akan berdurasi 5 - 6 menit dengan penulis, sutradara serta pemeran yang berbeda.Namun karena dianggap kurang selaras dengan yang lainnya, maka pada hasil akhir yang kita nikmati dalam DVD ini ada dua arrondisement yang tidak dimasukkan. Dua area itu mewakili arrondisement 11 (disutradarai Raphael Nadjari) dan arrondisement 15 (sutradara Chris toffer Boe).

Pertama kali aku menontonnya film ini, aku merasa kurang mengerti akan alur ceritanya. Padahal sebelum aku menontonnya aku sudah melihat terlebih dahulu "Behind the Scene" dari DVD ini untuk lebih memahami jalur ceritanya, tapi pada kesempatan pertama aku masih kurang paham akan makna yang ingin disampaikan oleh penulis/sutradara, akhirnya kubiarkan film berlalu begitu saja dan baru aku pilih scene/fragment yang kusuka. Salah satu fragment yang kusukai adalah yang berjudul "Quais de Seine". Perlu diketahui bahwa Paris terbagi dua oleh sungai yang teramat besar, indah dan romantis, "Sungai Seine".

Membicarakan sungai ini membawa khayalanku pergi jauh ke Paris di tahun 2000 ketika aku berkesempatan berkunjung kesana dari Belanda. Kebetulan aku pernah menghabiskan waktuku untuk menimba ilmu di negeri Belanda dari tahun 1999 - 2000. Dan ketika salju sudah mulai mencair, bunga-bunga mulai bermekaran, kusempatkan untuk bertandang ke Paris - France, Antwerpen & Brussels - Belgia serta Jerman.

Kesan pertamaku tentang Seine adalah sungainya cukup bersih dibandingkan dengan Ciliwung yang sudah penuh dengan sampah. Sehingga seringkali "Parisienne" (Ini adalah sebutan untuk warga Paris. Di Canada ada juga yang menyebut dirinya sebagai Quebecois yang artinya penduduk Quebec) menghabiskan waktu sorenya di kafe-kafe yang tersebar di sepanjang sungai Seine, ataupun hanya duduk-duduk bersama teman, pacar, kekasih, suami/istri, keluarga, siapasaja. Karena memang benar bahwa Paris sudah terkenal sebagai kota yang indah, kota yang penuh Cinta, kota yang penuh dengan karya seni, yang salah satunya dapat ditemui di Musium Louvre yang sudah terkenal itu, dan tidak ketinggalan kota cahaya.

Dalam film ini sutradara Gurinder Chadha (satu-satunya sutradara wanita di film ini, memiliki darah India, dan kurasa dia adalah Non-Muslim), mencoba mengangkat kebebasan dalam agama yang akhir-akhir ini mendapatkan pengawasan dan pelarangan oleh pemerintah Perancis. Dimana di sekolah-sekolah yang ada di Perancis, pemakaian Hijab or Jilbab, dilarang dan baru boleh dikenakan di luar sekolah. Kalau tetap membangkang maka hukumannya penjara sudah menanti.

Kisah dimulai dengan tiga anak muda Perancis yang sedang duduk-duduk di tepian Seine. Dua dari mereka saling bertaruh bahwa mereka akan dengan mudah mendapatkan gadis-gadis yang berlalu-lalang di tepian Seine. Tak jauh dari mereka, duduklah seorang wanita muslimah yang sedang menikmati Seine dan mendengarkan godaan kedua pemuda itu kepada para gadis. Pemuda ketiga secara tidak sengaja bertatapan mata dengan gadis muslimah ini (dimainkan dengan ciamik oleh Leila Bekhti) dan sang Dewi Amorpun menebarkan panahnya. Tatapan mata itu, walau cuman sesaat, teramat berkesan pada kedua insan manusia yang berbeda jenis tersebut. Tak heran Nabi Muhammad SAW yang kucintai, bersabda yang maknanya berkisar "Para Pemuda, janganlah engkau memandang mata lawan jenis dengan sengaja, terkecuali pada pandangan pertama yang tidak sengaja". Kalangan sastrawan Inggris mengungkapkan hal ini sebagai "Love at the First Sight" atau "Cinta pada Pandangan Pertama".

Tak lama setelah itu, sang gadispun bergegas pergi karena dia mesti ke Masjid untuk melaksanakan Shalat lima waktu namun sayangnya ketika dia berjalan tak jauh sang Pemuda, Dia tidak melihat ada batu sehingga terantuk dan terjatuhlah Dia. Otomatis Pemuda tersebut bergegas menolongnya dan timbullah suatu dialog yang cukup menarik tentang Islam antara seorang Muslim dengan Non-Muslim.

(Percakapannya tidak Saya tulis dengan sempurna, namun hal itu tidak akan mengurangi makna yang ingin kubagi)
Pemuda
"Kau tampak cantik dengan rambut teruraimu. Lalu kenapa Engkau menyembunyikannya dibalik hijab/jilbabmu?"
Pemudi
"Apakah hal ini berarti aku terlihat jelek dengan Hijab/Jilbabku?"
Pemuda
............... (Diam seribu bahasa dan tersipu..)
Pemudi
"Ini adalah pilihanku sebagai Muslimah untuk mengenakan Hijab/Jilbab, bukan karena suruhan orang tua, orang lain atau siapapun. Ini pilihanku. Selain itu untuk terlihat Cantik tidak selalu kita harus menunjukkannya secara harfiah kepada orang lain. Dengan hijab/jilbabku aku merasa Cantik dan memiliki Iman, dan itulah sebagai penanda jati diriku."

Dari dialog sederhana tadi, namun untuk membuat aku yakin tidak sesederhana dalam kita menikmatinya, ada beberapa makna mendalam yang dapat kugali.

Pertama.
Seringkali kita para pria bermaksud memuji wanita yang kita sukai namun menyampaikan suatu kalimat yang tanpa kita sadari membuat mereka terlihat jelek pada momen yang lain dan hal itu amat tidak disukai oleh wanita. Sebagai contoh, seringkali dengan bermaksud memuji, kita bilang bahwa pasanga/kekasih kita itu tampak lebih cantik aslinya daripada di foto. Sebenarnya secara tidak langsung kita mengatakan bahwa dia hanya terlihat cantik dalam wujud aslinya, bukan dalam bentuk foto, apakah kita para pria menyadarinya? Rasanya seringkali tidak, karena penulis sendiri pernah terjebak dalam situasi ini.

Kedua.
Agama adalah pilihan dasar milik semua umat manusia yang ada dan hal ini tidak dapat dibatasi oleh aturan manapun dari negara manapun. Sehingga amatlah tidak tepat langkah yang dilakukan Pemerintah Perancis melakukan pelarangan pemakaian hijab/jilbab di Perancis. Begitu juga yang pernah dilakukan oleh Kemal Attaturk yang mencoba memisahkan ruh Islam di Turki. Atas ini aku juga teringat ketika aku mendapatkan suatu pertanyaan yang cukup sulit dari rekan wanitaku yang berdarah Belanda di tahun 2000 (Dari statistik yang ada, di tahun 2000, di Belanda, hampir 80% anak mudanya adalah Atheis. Hal ini didasari keyakinan bahwa mereka tidak membutuhkan Tuhan, dikarenakan semua kebutuhan hidupnya telah dapat dipenuhinnya sendiri). Ketika itu dia juga menanyakan hal yang sama dengan argument bahwa dia sebaga gadis khan juga memiliki Hak untuk memamerkan keindahan rambutnya kepada para pria. Karena disini kita berargument dengan NOn-Moslem, maka akan lebih mengena jika dilakukan pendekatan logika sebagai yang telah apik disajikan dalam suatu dialog singkat dalam film ini.

Ketiga.
Dengan memberikan pengertian yang dapat dipahami oleh pihak lain, dalam hal ini dengan melakukan pendekatan logika, maka secara tidak langsung sang gadis menyampaikan bahwa Islam itu adalah suatu Agama Universal yang membawa Rahmat untuk seluruh umat. Terbukti dengan tidak adanya paksaan dalam Islam, dan umatnya memiliki kebebasan untuk memilih. Sebagaimana firman Allah SWT yang menyampaikan kepada para malaikat-Nya ketika mereka bertanya "Mengapa diturunkan ke muka bumi, makhluk yang namanya manusia. Padahal mereka akan membawa kerusakan di muka bumi". Dengan bijak Allah SWT menyampaikan bahwa Dia lebih tahu apa yang para malaikat itu tidak ketahui. Dan kalau kita ingat, dalam Islam, selain Al-Qur'an dan Al-Hadist sebagai pegangan, kita, umat manusia, juga dibekali dengan akal. Hal ini seringkali disinggung dalam akhir ayat dalam Al-Qur'an yang berbunyi "Afaala Ta'qiluun" Yang artinya adalah "Apakah Kamu tidak berpikir (wahai Umat Manusia)?" Dalam nukilan ayat tersebut Allah mengajak kita untuk berpikir dan memberikan kebebasan seluas-luasnya dengan batasan yang manusia masih bisa tangani. Karena ada dunia yang sebaiknya tidak kita renungkan karena itu hak mutlak milik Allah SWT. Sebagai contoh, hingga
detik ini para ilmuwan tidak dapat menyampaikan udara itu seperti apa? Warnanya gimana? Bentuknya gimana? Itu adalah salah satu hak mutlak Allah SWT yang hanya perlu diyakini dan diimani.

Keempat.
Dalam film ini disampaikan pula bahwa Cinta itu adalah Universal, tidak mengenal suku, agama, ras, keturunan dan lain sebagainya. Terlihat disana bahwa sang gadis yang muslimah jatuh hati kepada sang pemuda yang notabene Non-Muslim. Namun tidak selalu cintai itu berujung ke pernikahan karena untuk melangkah kesana membutuhkan komitmen yang tidak main-main.

Kelima.
Menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang membawa Rahmat ke seluruh makhluk yang ada di bumi dan langit. Serta dalam Islam selama itu tidak menyangkut akidah maka kita diperbolehkan untuk bekerjasama, bahkan sudah seharusnya Islam membawa kebaikan untuk semuanya, sebagaimana yang selalu dicontohkan oleh Nabiullah kita yang tercinta, Muhammad SAW. Fragment ini diwakili ketika sang gadis beranjak pergi dengan kakeknya (yang Muslim) meninggalkan sang Pemuda yang menunggu dengan sabar sang Gadis keluar dari Masjid. Tatapan mata sang Gadis (Zarka) seakan-akan meminta sang Kakek mengijinkan dia untuk mengajak sang pemuda turut serta dalam perjalanan mereka.

Keenam.
Dalam fragment ini pula dengan bijaknya Sang Gadis menyampaikan bahwa jikalau Engkau hendak mendapatkan "kencan", maka janganlah engkau mengajak atau meneriakin kata-kata yang tidak baik kepada gadis yang engkau suka. Dalam fragment ini terlihat sekali bahwa para pemuda itu amat meremehkan bahkan merendahkan derajat para wanita.

Ketujuh.
Tepian Sungai Seine teramat indah dan romantis, masih sama dan persis ketika aku mengunjunginya di tahun 2000, lima tahun sebelum film ini dibuat. Kalau di Indonesia, 5 tahun mundur kebelakang, Sungai Ciliwung mungkin masih "agak bersihan" kali yee. Lima tahun sebelum sekarang, pinggiran sungai Ciliwung tidak begitu padat dengan rumah-rumah kumuh yang sering terbawa banjir besar yang melanda Ibukota NKRI. Itulah bedanya kita dengan mereka, sungai bisa menjadi tempat wisata yang mengasyikkan dan kita bisa berlayar menikmatinya di hari libur tanpa perlu menutup hidung kita seperti yang perlu dilakukan ketika berwisata dengan perahu di area Dukuh Atas.

Last but not Least.
Love, is truely happened everywhere in Paris!!!

-Dian-

First Media, ooo... First Media

Pengalamanku mencoba berlangganan layanan Internet Kabel dari First Media cukup mengesalkan. Promosinya sich boleh, tapi kenyataannya gak gitu-gitu amat.

Jadi termakan omongan promosi, aku coba ngedaftar layanan ini. Ya udah aku klik aja di http://www.firstmedia.com. Ketika aku masuk ke menu pendaftaran sich lumayan enak dan komunikatif karena disana kita bisa lihat apakah area rumah kita sudah masuk dalam area layanan First Media atau belum. Ketika aku disana, ada yang aneh kurasakan. Di website mereka, tetanggaku yang temboknya nempel ama aku, udah termasuk area layanan, lha alamat rumahku koq ya belum??? Akhirnya kuputusin untuk nelpon CSO-nya dan disarankan untuk sementara pake alamat tetanggaku aja, trus nanti tinggal dirubah ke alamat yang benar. Ya udah akhirnya mereka berjanji untuk mulai instalasi pas weekend, dan ketemulah aku dengan teknisinya. Ternyata dari segi teknis, mereka tidak bisa melakukan itu (lagu lama nich, teknis dan sales suka gak nyambung!) dan musti dirubah dulu pake alamat yang bener baru bisa dipasang.

Ya udah aku nurutin aja, namun ternyata ini yang menjadikan proses aplikasiku jadi tertahan cukup lama yang hingga detik ini belum juga dipasang. Dari sekian banyak komunikasi yang aku lakukan dengan CSO-nya cuman dapet jawaban kalau sekarang alamatku sedang diproses ama bagian design dan selama belum turun approvalnya, gak akan bisa dipasang.

Terus terang aku jadi kecewa berat, baru mau pasang aja udah susah begini, bagaimana jika nanti ada masalah di tengah jalan? Bisa-bisa Kami sebagai customer cuman diping-pong aja...

So, kalau ada rekan-rekan yang mau pake First Media, dicek dulu aja, sapa tau orang Sales dan Teknik suka gak nyambung kayak yang aku rasakan ini...

-Dian-

Mushalla di Mall Mall DKI

(Penelurusanku ke salah satu Mall di daerah Tomang)

Kali ini "Honda Kharisma 125"-ku menuntunku ke salah satu Mall yang ada di area Tomang. Ini adalah kunjunganku kesekian kali setelah beberapa lama tidak mengunjunginya dikarenakan jauh dari rumahku. Waktu itu sudah menjelang masuk waktu Maghrib dan aku musti buru-buru nyampe, nyari tempat buat buka puasa sunnahku.

Setelah urusan pembatalan shaum udah kelar, lha sekarang gilirannya untuk menghadap ke Sang Khalik, Allah SWT. Untuk mencari musholla di Mall ini cukup mudah, tinggal cari Layar gedhe yang bisa dipencet-pencet tombolnya dan cari aja dengan kata kunci Musholla. Lha, berdasarkan itu tinggal ikutin peta or denahnya aja, dan kali ini aku mau menyambangi Musholla yang ada P7, dan masuknya dari lantai L1.


Begitu aku masuk ke areanya ada beberapa hal yang aku mau tulis disini, antara lain:

Locker
Musholla disini aku rasa menerapkan metoda "self-service", termasuk untuk urusan locker. Seperti yang terlihat difoto, ada sekian locker yang bisa dipergunakan secara gratis, tinggal masukin barang kita, trus kantungin dech kuncinya. Tapi, ketika penulis mencoba pakai salah satunya, ternyata kunci yang tersisa itu tidak sesuai dengan locker yang bersangkutan, dan setelah dicoba beberapa kali tidak ada yang cocok, maka dengan terpaksa kubatalkan pake locker tersebut. Lokasinya bersebelahan dengan Musholla Perempuan dan terlihat hampir semua kotak sudah terpakai, entah benar entah tidak. Ketika penulis mencari-cari pertolongan, tidak terlihat petugas yang bisa membantu.

Toilet & Tempat Berwudhu

Untuk menemukan tempat tersebut, perlu sedikit teliti dan kreatif. Hal ini dikarenakan tidak ada tanda yang menunjukkan tempat tersebut. Tempat tersebut, untuk pria, letaknya bersebelahan dengan pintu masuk ke Musholla Pria, seperti yang udah penulis tandain dalam gambar berikut ini. Alangkah baiknya jikalau pihak Mall menempelkan keterangan tambahan akan tempat tersebut. Kemudian adalah persoalan alas kaki untuk ke area Toilet & Berwudhu tersebut. Dari yang penulis amati, mungkin karena terlalu lama, maka bagian bawah alas kaki yang disediakan sudah tipis sehingga menjadi agak licin ketika dipakai memasuki area tersebut. Mungkin sudah saatnya alas kakinya diberikan adik alias di-"lem biru" (bahasa slank-nya). Lem biru adalah singkatan dari Lempar ke tempat sampah, dan Beli Baru.

Hal terakhir yang aku bisa saranin adalah perihal tempat duduk. Alangkah enaknya jika pihak Mall dapat menyediakan tempat bagi mereka yang hendak memakai sepatunya tempat duduk yang lumayan nyaman. Mungkin bisa diambil contoh tempat duduk yang ada di Musholla di Mall Plaza Semanggi. Terlihat dalam foto, salah satu pengunjung musti sedikit berakrobat untuk memakai kaos kakinya kembali dan sepatunya.

Namun secara umum, Mushollanya cukup bersih dan terawat rapi. Tidak tercium bau-bau yang kurang enak meskipun areanya adalah di area parkir mobil yang biasanya penuh dengan bau asap knalpot. Jika memungkinkan untuk dipindah, akan lebih baik lagi, karena ini adalah tempat ibadah kepada-Nya, dan sudah selayaknya mendapatkan tempat yang lebih layak.
-Naid-

Tintin di Indonesia

Hmmm udah libur lagi hari ini, tapi sayangnya ini bukan long weekend tapi lebih tepatnya ini adalah ‘harpitnas’ – hari kejepit nasional. Kira-kira orang di Jakarta udah pada keluar kota gak ya? Khan tinggal ngambil cuti aja, trus udah dech jadi liburan panjang. Tapi walaupun pergi keluar kota mereka gak akan bisa lepas dari kemacetan karena banyak orang Jakarta yang memiliki ide yang sama. Namun hari ini aku udah punya janji dengan komunitas penggemar Tintin Indonesia untuk melakukan ‘kopdar’ – kopi darat alias kumpul-kumpul bareng. Bukan nongkrong-nongkrong kayak yang diracunkan oleh MTV Indonesia ke generasi muda loch… Sekedar menyentil aja, MTV Indonesia koq ya tega-teganya menyapa pemirsa mudanya dengan istilah ‘anak nongkrong’? Emang generasi muda kita udah sebegitu rendahnya ampe mau disebut sebagai generasi nongkrong? Astaghfirullah…..

Ya hari ini adalah hari pertamaku ikutan kopi darat para penggemar Tintin di Indonesia. Aku baru tau kalau ada komunitas ini dari mailing list yang baru kuikutin beberapa minggu ini. Kebetulan pas aku baru gabung, lagi ada program ‘reinkarnasi’ dari serial Tintin yang udah terkenal itu dalam Bahasa Indonesia oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU). Sekedar info aja, semua ‘Tintiners’ atau Mas Bayu menyapa kita dengan sapaan ‘Fellows Marlinspike’, sudah pada tahu bahwa sejak tahun 1975 serial ini udah ada di Indonesia yang diterbitin oleh penerbit Indira. Tapi sekarang hak untuk menerjemahkan dan menerbitkan serial ini ada di tangan GPU. Adakah perubahan? Buat generasi aku yang udah kenal Tintin sejak kecil, lebih kenal dengan tokoh-tokoh Snowy, Thomson & Thompson, Professor Cuthbert Calculus. Nah dalam terbitan GPU ini jangan harap akan menemui nama-nama itu lagi karena GPU, sesuai dengan kontrak yang dimilikinya dengan penerbit Tintin International (Casterman) harus lebih memakai nama-nama aslinya sebisa mungkin. Jadi snowy akan berubah menjadi Milo, dimana dalam versi Bahasa Perancisnya dia dikenal dengan nama Milou; Thomson & Thompson menjadi Dupont & Dupond; Prof. Calculus menjadi Prof. Lakmus. Untuk ini mungkin kalau sempet aku akan coba tulis di lain waktu dech..

Tepat menjelang 10:00 pagi aku udah memarkir ‘Kharisma 125 cc-ku’ di area parkir Bank Mega/ Trans TV/Trans 7. Yups, kali ini kita janjian kopdar di Coffee Bean trus akan coba diambil gambar oleh pihak tipi yang jam tayangnya akan ditentukan kemudian. Kulihat belum banyak yang dating, cuman aku udah curiga ama orang yang duduk tak jauh dariku karena koq dia bawa-bawa pigura yang gedhe sich? Jangan-jangan dia mempigura Tintin-nya. Ternyata dugaanku gak salah, dia adalah salah satunya. Akhirnya satu demi satu ‘Tintiners’ datang dengan membawa koleksinya. Aku cukup kagum dengan Mbak Dina yang koleksinya cukup lengkap dari Tintin di Tibet yang diterjemahkan dalam bahasa aslinya, koleksi koin-nya yang terlengkap, plus 40 buah model mobil-mobil yang pernah muncul di serial Tintin, dan itu semuanya asli dari Moulinsart, Toko Cendera Mata Tintin di Belgia, ckckckckck hebat euy. Beberapa yang sempat aku abadikan bisa diliat dibawah sini.

Trus ada satu koleksinya yang terlangka yaitu Koran ‘Tintin’. Sebenernya sich itu adalah Koran nasional Belgia biasa, yach kalau disini kayak Kompas gitulah. Tapi, khusus untuk memperingati ‘Herge’s Anniversary’ semua gambar di Koran tersebut diganti dengan gambar-gambar dari serial Tintin. Sebagai contoh, jika Koran tersebut memberitakan berita pengeboman, maka gambar yang ditampilkan adalah adegan pengeboman dari salah satu serial Tintin. Dan untuk mendapatkan Koran itu, para pembelinya musti dicatat KTP-nya euy, karena Koran itu dicetak terbatas dan tidak semua orang bisa membelinya.. Itu barang langka euy… Sayangnya aku gak punya fotonya, nanti kalau udah ada pasti aku upload ke sini. Dalam foto itu juga ada roket Tintin yang dibuat di Bali....

Yang lebih seru lagi adalah salah satu ‘Tintiners’ yang memiliki satu set pakaian asli Skotlandia. Udah gitu atas dorongan yang lainnya, dia berganti baju dan memakai baju itu khusus untuk kita dan para pemirsa televisi nantinya. Hebat and Te O Pe deee….. Nich fotonya, yang kiri adalah key chain figurine-nya dan yang kanan adalah salah satu ‘Tintiners’ Indonesia.

Sebenernya aku suka Tintin, pertama-tama dikarenakan gambarnya bagus, trus ceritanya cukup lucu. Namun ketika semakin dewasa aku baru sadar bahwa ini adalah suatu komik cerdas dimana pengarangnya, Herge, telah membawa kita para pembaca setianya untuk mengenal negara lain tanpa beranjak dari tempat kita asyik membacanya. Bahkan karena Tintin pulalah, membuat salah satu rekan jadi suka berpetualang, mendaki gunung, pergi mengunjungi negara lain dan hal-hal positif lainnya. Dari Tintin kita juga bisa belajar politik pada saat itu disuatu negara, sebagai contoh yaitu Tintin di Amerika, dimana pada waktu itu Gangster adalah penguasa kota Chicago dan tokoh kita Tintin digambarkan dapat membasmi Gangster dan membekuk tokoh utamanya, si Al-Capone. Kemudian ada lagi cerita tentang pendaratan di bulan, dan kalau kita jeli, cerita ini ditulis bahkan sebelum Apollo 11 yang diawaki oleh Neil Amstrong menjejakkan kakinya di Bulan. Itu sangat mengagumkanku dan membuatku semakin suka membacanya berulang-ulang.

Bahkan dalam salah satu episodenya, Tintin pernah mampir ke Indonesia, tepatnya ke Bandara Kemayoran. Itu termuat dalam serial Tintin yang berjudul “Penerbangan 714”. Jadi ceritanya, dari Eropa, Tintin dan teman-temannya sedang dalam perjalanan menghadiri suatu acara di Australia, dan pesawat yang mereka tumpangi transit di Kemayoran!! Bukan di Changi, Singapore loch!! Trus dalam buku tersebut pula, mereka diceritakan terapung-apung di lautan dan pesawat pencari melakukan koordinasi dengan Makassar Tower!! Dan ini adalah serial favoritku…

Buat yang pengen gabung bisa joint di
tintin_id@yahoogroups.com yaa…

-Dian-