Mitreka Satata dan Adipati Sengguruh

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itupun tiba, hari pementasan pagelaran seni Adipati Sengguruh hasil kolaborasi antara para warga Mitreka Satata, SMA N 1 Malang, dengan Alumnus ITB, Puspo Budoyo dan beberapa artis Ibukota, Jum'at, 23 Mei 2008. Pementasan rencananya akan dilakukan di Gedung Kesenian Jakarta. Terus terang baru kali ini aku memasuki gedung ini. Selama ini sich sudah sering aku melewatinya dalam perjalananku dari area Jakarta Pusat menuju Sudirman, Thamrin, Jakarta Selatan, ataupun tempat-tempat lainnya.

Merujuk ke sejarahnya gedung ini telah ada sejak jaman penjajahan Inggris di Indonesia. Waktu itu Sir Thomas Raffles yang sangat mengapresiasi kesenian lokal Indonesia membuat suatu gedung kesenian sederhana yang terbuat dari bambu yang dinamakan "Military Theater Venue" di Weltevreden. Kemudian didukung oleh pemerintahan Belanda, gedung ini direnovasi menjadi suatu gedung pertunjukan seni permanen dengan ukuran 144 X 160 feet yang dikenal dengan nama "Schouwburg Weltevreden", atau artinya Teater (Gedung Kesenian) Weltevreden. Nama ini mengalami beberapa perubahan menjadi "Gedung Kesenian Pasar Baru", "Gedung Komidi - Comidie Gebouw" dan "Schouwburg". Dan akhirnya sejak tahun 1987 namanya menjadi Gedung Kesenian Jakarta sampai detik ini.

Karena ini kali pertama, rasanya gimana gitu. Rasa-rasanya nich gedung ngawasin aku seolah-olah dia mau bilang "Eh sapa nich? Sering lewat gak pernah mampir. Kayak peribahasa Jawa "Kecipir merambat kawat. Masiho gak mampir asal liwat." Bukan angker yang kurasakan, namun ada wibawa tersendiri pas masuk ke gedung. Kewibawaan yang jarang kita temukan di Ibukota ini dikarenakan banyak sudah gedung-gedung lama yang digusur digantikan dengan gedung-gedung pencakar langit, penuh kaca yang menambah cepat pemanasan global; menyumbang percepatan cairnya es di Kutub dan menambah panas hawa Jakarta yang dikeluarkan oleh peralatan AC yang memenuhi gedung-gedung itu.

Aku masuk dari arah belakang dan pertama kali aku temuin adalah deretan poster-poster yang menggambarkan bahwa gedung ini pernah menjadi gedung yang cukup bergengsi di Ibukota ini. Untuk menjadi tamunya musti pake pakaian formil, dengan dress code tertentu, misalnya dengan setting Betawi Tempoe Doeloe dan lain sebagainya. Dari sekian banyak poster yang tergantung aku tertarik dengan poster pementasan Naga Bonar. Dalam poster itu digambarkan Sang Saka Merah Putih sedang disetrika pake setrikaan model dulu yang pakai arang. Sebelum nyetrika, kita musti bakar arangnya dan menjaga agar percikan api dari arang itu tidak mengenai kain yang sedang kita setrika karena bisa keliatan bolong-bolong kecil percis kaya baju temenku yang bolong kena percikan api rokoknya.

Pas aku dateng, sekitar jam 15:00 JKT Time, sedang dilakukan persiapan untuk pementasan nanti malam. Ada beberapa pohon yang ditebang dan ditancepin ke besi biar bisa berdiri tegak. Di panggung sudah dibuat ada makam, dihiasi dengan pohon kamboja dan beringin (rasa-rasanya dua pohon ini wajib ada ya di setiap area pemakaman jaman dulu dech...). Beberapa hasil bidikanku dengan menggunakan Telepon Sellular Kamera. Selain itu aku juga sempet ngambil gambar peralatan pendukungnya kayak gendang dan temen-temennya. Tak lupa, aku ambil gambar area tempat duduk yang melingkari area panggung. Hmmm... jadi kebayang gimana suasana pentas malem nanti...






Kalau mau joint milist Alumni Mitreka Satata ataupun our Network bisa gunakan tools yang ada disebelah.

-Dian-

No comments: