PARIS, Je t'aime......


Akhirnya malam minggu ini, aku berkesempatan juga untuk menikmati film yang sudah kubeli beberapa waktu yang lalu. Judulnya adalah "Paris, Je T'aime" yang artinya, "Paris, Aku cinta kamu". Dari sejak pertama ku melihat film ini diiklankan di media massa di salah satu megaplex di Jakarta, pengen sekali rasanya aku menontonnya, namun waktu jualah yang membuatku tidak bisa menikmatinya di versi layar lebarnya. Oleh karena itu kuingin pula menyampaikan terima kasih kepada CCF (Centre Cultural Francais - Pusat Kebudayaan Perancis) Jakarta yang telah mendukung agar film ini dapat dinikmati oleh khalayak ramai dalam bentuk DVD Original.

Daya tarik aku untuk membeli DVD ini di salah satu toko buku yang menjual buku-buku asing di salah satu pusat perbelanjaan megah yang terhubung dengan salah satu Jaringan Hotel International di Bunderan HI (Hotel Indonesia), adalah deretan para pemeran dalam film ini yang terdiri atas:

  • Elijah Wood (Kukenal dia lewat Trilogy "Lord of the Ring" yang terkenal itu)
  • Natalie Portman (kukenal dia lewat Trilogy yang sudah melegenda "Star Wars")
  • Juliette Binoche (kukenal dia lewat film non Hollywod, English Patient, yang pernah memenangkan Piala Oscar)
  • Maggie Gyllenhaal
  • Gerard Depardieu (Aktor terkenal Perancis yang kukenal semasa aku belajar Bahasa Perancis di CCF Surabaya, dan dari film terkenal yang kusuka, "Asterix and Obelix").
  • Nick Nolte (Aktor kawakan yang tetep menawan aktingnya hingga kini)
  • Ludivine Sagnier
  • Bob Hoskins
  • Steve Buschemi
  • Willem Dafoe (Aku selalu teringat karakter yang dimainkannya dalam "Platoon").
  • Gena Rowlands (Aktris yang baru kukenal dari film Notebook yang cukup mengaduk-aduk emosiku).

dan secara keseluruhan film yang berdurasi 110 menit dan memakai Bahasa Perancis dan Inggris serta subtitle kedalam Bahasa Inggris dan Indonesia, disutradarai oleh tidak kurang dari 20 orang, mengambil tempat di 18 distrik/wilayah (Arrondisement) di Paris. Selain itu film ini dibuat dengan biaya tidak dari US$ 16 juta memberikan kesulitan yang cukup berarti untuk setiap sutradara. Dimana mereka dituntut untuk menampilkan atau mewakili arrondisement yang telah ditetapkan, serta hal itu ditampilkan dalam suatu scene atau fragment yang berdurasi 5 - 6 menit. Tantangan berikutnya adalah cuaca di Paris ketika film ini dibuat yang kadang hampir seharian turun hujan sehingga tidak memungkinkan untuk pengambilan gambar. Perlu juga untuk diingat bahwa para sutradara itu hanya diberikan kesempatan untuk melakukan syuting selama 2 hari penuh di arrondisement tersebut. Selain itu ada juga kesulitan lainnya seperti yang diungkapkan oleh sutradara Richard La Gravenese untuk arrondisement Pigalle yang sudah terkenal sebagai "Red Light District-nya Paris". Dalam kurun waktu dua hari mereka harus menyelesaikan film yang berkualitas tinggi. Sementara di lain pihak, menurut sutradaranya penduduk Paris amat suka bersenang-senang di bar dan rata-rata bar yang ada disana baru tutup jam 05:00 pagi sehingga menyulitkannya untuk merekam suara dan pengambilan gambar. Selain itu ketika tahu ada proses pembuatan film di area ini, maka seringkali para pemilik bar semakin mengeraskan suara music yang menghentak di barnya sehingga sedikit banyak semakin mempersulit pembuatan film ini.

Untuk diketahui Paris sendiri terdiri atas 20 arrondisement, dan rencananya film ini akan mewakili arrondisement-arrondisement tersebut, yang masing-masing akan berdurasi 5 - 6 menit dengan penulis, sutradara serta pemeran yang berbeda.Namun karena dianggap kurang selaras dengan yang lainnya, maka pada hasil akhir yang kita nikmati dalam DVD ini ada dua arrondisement yang tidak dimasukkan. Dua area itu mewakili arrondisement 11 (disutradarai Raphael Nadjari) dan arrondisement 15 (sutradara Chris toffer Boe).

Pertama kali aku menontonnya film ini, aku merasa kurang mengerti akan alur ceritanya. Padahal sebelum aku menontonnya aku sudah melihat terlebih dahulu "Behind the Scene" dari DVD ini untuk lebih memahami jalur ceritanya, tapi pada kesempatan pertama aku masih kurang paham akan makna yang ingin disampaikan oleh penulis/sutradara, akhirnya kubiarkan film berlalu begitu saja dan baru aku pilih scene/fragment yang kusuka. Salah satu fragment yang kusukai adalah yang berjudul "Quais de Seine". Perlu diketahui bahwa Paris terbagi dua oleh sungai yang teramat besar, indah dan romantis, "Sungai Seine".

Membicarakan sungai ini membawa khayalanku pergi jauh ke Paris di tahun 2000 ketika aku berkesempatan berkunjung kesana dari Belanda. Kebetulan aku pernah menghabiskan waktuku untuk menimba ilmu di negeri Belanda dari tahun 1999 - 2000. Dan ketika salju sudah mulai mencair, bunga-bunga mulai bermekaran, kusempatkan untuk bertandang ke Paris - France, Antwerpen & Brussels - Belgia serta Jerman.

Kesan pertamaku tentang Seine adalah sungainya cukup bersih dibandingkan dengan Ciliwung yang sudah penuh dengan sampah. Sehingga seringkali "Parisienne" (Ini adalah sebutan untuk warga Paris. Di Canada ada juga yang menyebut dirinya sebagai Quebecois yang artinya penduduk Quebec) menghabiskan waktu sorenya di kafe-kafe yang tersebar di sepanjang sungai Seine, ataupun hanya duduk-duduk bersama teman, pacar, kekasih, suami/istri, keluarga, siapasaja. Karena memang benar bahwa Paris sudah terkenal sebagai kota yang indah, kota yang penuh Cinta, kota yang penuh dengan karya seni, yang salah satunya dapat ditemui di Musium Louvre yang sudah terkenal itu, dan tidak ketinggalan kota cahaya.

Dalam film ini sutradara Gurinder Chadha (satu-satunya sutradara wanita di film ini, memiliki darah India, dan kurasa dia adalah Non-Muslim), mencoba mengangkat kebebasan dalam agama yang akhir-akhir ini mendapatkan pengawasan dan pelarangan oleh pemerintah Perancis. Dimana di sekolah-sekolah yang ada di Perancis, pemakaian Hijab or Jilbab, dilarang dan baru boleh dikenakan di luar sekolah. Kalau tetap membangkang maka hukumannya penjara sudah menanti.

Kisah dimulai dengan tiga anak muda Perancis yang sedang duduk-duduk di tepian Seine. Dua dari mereka saling bertaruh bahwa mereka akan dengan mudah mendapatkan gadis-gadis yang berlalu-lalang di tepian Seine. Tak jauh dari mereka, duduklah seorang wanita muslimah yang sedang menikmati Seine dan mendengarkan godaan kedua pemuda itu kepada para gadis. Pemuda ketiga secara tidak sengaja bertatapan mata dengan gadis muslimah ini (dimainkan dengan ciamik oleh Leila Bekhti) dan sang Dewi Amorpun menebarkan panahnya. Tatapan mata itu, walau cuman sesaat, teramat berkesan pada kedua insan manusia yang berbeda jenis tersebut. Tak heran Nabi Muhammad SAW yang kucintai, bersabda yang maknanya berkisar "Para Pemuda, janganlah engkau memandang mata lawan jenis dengan sengaja, terkecuali pada pandangan pertama yang tidak sengaja". Kalangan sastrawan Inggris mengungkapkan hal ini sebagai "Love at the First Sight" atau "Cinta pada Pandangan Pertama".

Tak lama setelah itu, sang gadispun bergegas pergi karena dia mesti ke Masjid untuk melaksanakan Shalat lima waktu namun sayangnya ketika dia berjalan tak jauh sang Pemuda, Dia tidak melihat ada batu sehingga terantuk dan terjatuhlah Dia. Otomatis Pemuda tersebut bergegas menolongnya dan timbullah suatu dialog yang cukup menarik tentang Islam antara seorang Muslim dengan Non-Muslim.

(Percakapannya tidak Saya tulis dengan sempurna, namun hal itu tidak akan mengurangi makna yang ingin kubagi)
Pemuda
"Kau tampak cantik dengan rambut teruraimu. Lalu kenapa Engkau menyembunyikannya dibalik hijab/jilbabmu?"
Pemudi
"Apakah hal ini berarti aku terlihat jelek dengan Hijab/Jilbabku?"
Pemuda
............... (Diam seribu bahasa dan tersipu..)
Pemudi
"Ini adalah pilihanku sebagai Muslimah untuk mengenakan Hijab/Jilbab, bukan karena suruhan orang tua, orang lain atau siapapun. Ini pilihanku. Selain itu untuk terlihat Cantik tidak selalu kita harus menunjukkannya secara harfiah kepada orang lain. Dengan hijab/jilbabku aku merasa Cantik dan memiliki Iman, dan itulah sebagai penanda jati diriku."

Dari dialog sederhana tadi, namun untuk membuat aku yakin tidak sesederhana dalam kita menikmatinya, ada beberapa makna mendalam yang dapat kugali.

Pertama.
Seringkali kita para pria bermaksud memuji wanita yang kita sukai namun menyampaikan suatu kalimat yang tanpa kita sadari membuat mereka terlihat jelek pada momen yang lain dan hal itu amat tidak disukai oleh wanita. Sebagai contoh, seringkali dengan bermaksud memuji, kita bilang bahwa pasanga/kekasih kita itu tampak lebih cantik aslinya daripada di foto. Sebenarnya secara tidak langsung kita mengatakan bahwa dia hanya terlihat cantik dalam wujud aslinya, bukan dalam bentuk foto, apakah kita para pria menyadarinya? Rasanya seringkali tidak, karena penulis sendiri pernah terjebak dalam situasi ini.

Kedua.
Agama adalah pilihan dasar milik semua umat manusia yang ada dan hal ini tidak dapat dibatasi oleh aturan manapun dari negara manapun. Sehingga amatlah tidak tepat langkah yang dilakukan Pemerintah Perancis melakukan pelarangan pemakaian hijab/jilbab di Perancis. Begitu juga yang pernah dilakukan oleh Kemal Attaturk yang mencoba memisahkan ruh Islam di Turki. Atas ini aku juga teringat ketika aku mendapatkan suatu pertanyaan yang cukup sulit dari rekan wanitaku yang berdarah Belanda di tahun 2000 (Dari statistik yang ada, di tahun 2000, di Belanda, hampir 80% anak mudanya adalah Atheis. Hal ini didasari keyakinan bahwa mereka tidak membutuhkan Tuhan, dikarenakan semua kebutuhan hidupnya telah dapat dipenuhinnya sendiri). Ketika itu dia juga menanyakan hal yang sama dengan argument bahwa dia sebaga gadis khan juga memiliki Hak untuk memamerkan keindahan rambutnya kepada para pria. Karena disini kita berargument dengan NOn-Moslem, maka akan lebih mengena jika dilakukan pendekatan logika sebagai yang telah apik disajikan dalam suatu dialog singkat dalam film ini.

Ketiga.
Dengan memberikan pengertian yang dapat dipahami oleh pihak lain, dalam hal ini dengan melakukan pendekatan logika, maka secara tidak langsung sang gadis menyampaikan bahwa Islam itu adalah suatu Agama Universal yang membawa Rahmat untuk seluruh umat. Terbukti dengan tidak adanya paksaan dalam Islam, dan umatnya memiliki kebebasan untuk memilih. Sebagaimana firman Allah SWT yang menyampaikan kepada para malaikat-Nya ketika mereka bertanya "Mengapa diturunkan ke muka bumi, makhluk yang namanya manusia. Padahal mereka akan membawa kerusakan di muka bumi". Dengan bijak Allah SWT menyampaikan bahwa Dia lebih tahu apa yang para malaikat itu tidak ketahui. Dan kalau kita ingat, dalam Islam, selain Al-Qur'an dan Al-Hadist sebagai pegangan, kita, umat manusia, juga dibekali dengan akal. Hal ini seringkali disinggung dalam akhir ayat dalam Al-Qur'an yang berbunyi "Afaala Ta'qiluun" Yang artinya adalah "Apakah Kamu tidak berpikir (wahai Umat Manusia)?" Dalam nukilan ayat tersebut Allah mengajak kita untuk berpikir dan memberikan kebebasan seluas-luasnya dengan batasan yang manusia masih bisa tangani. Karena ada dunia yang sebaiknya tidak kita renungkan karena itu hak mutlak milik Allah SWT. Sebagai contoh, hingga
detik ini para ilmuwan tidak dapat menyampaikan udara itu seperti apa? Warnanya gimana? Bentuknya gimana? Itu adalah salah satu hak mutlak Allah SWT yang hanya perlu diyakini dan diimani.

Keempat.
Dalam film ini disampaikan pula bahwa Cinta itu adalah Universal, tidak mengenal suku, agama, ras, keturunan dan lain sebagainya. Terlihat disana bahwa sang gadis yang muslimah jatuh hati kepada sang pemuda yang notabene Non-Muslim. Namun tidak selalu cintai itu berujung ke pernikahan karena untuk melangkah kesana membutuhkan komitmen yang tidak main-main.

Kelima.
Menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang membawa Rahmat ke seluruh makhluk yang ada di bumi dan langit. Serta dalam Islam selama itu tidak menyangkut akidah maka kita diperbolehkan untuk bekerjasama, bahkan sudah seharusnya Islam membawa kebaikan untuk semuanya, sebagaimana yang selalu dicontohkan oleh Nabiullah kita yang tercinta, Muhammad SAW. Fragment ini diwakili ketika sang gadis beranjak pergi dengan kakeknya (yang Muslim) meninggalkan sang Pemuda yang menunggu dengan sabar sang Gadis keluar dari Masjid. Tatapan mata sang Gadis (Zarka) seakan-akan meminta sang Kakek mengijinkan dia untuk mengajak sang pemuda turut serta dalam perjalanan mereka.

Keenam.
Dalam fragment ini pula dengan bijaknya Sang Gadis menyampaikan bahwa jikalau Engkau hendak mendapatkan "kencan", maka janganlah engkau mengajak atau meneriakin kata-kata yang tidak baik kepada gadis yang engkau suka. Dalam fragment ini terlihat sekali bahwa para pemuda itu amat meremehkan bahkan merendahkan derajat para wanita.

Ketujuh.
Tepian Sungai Seine teramat indah dan romantis, masih sama dan persis ketika aku mengunjunginya di tahun 2000, lima tahun sebelum film ini dibuat. Kalau di Indonesia, 5 tahun mundur kebelakang, Sungai Ciliwung mungkin masih "agak bersihan" kali yee. Lima tahun sebelum sekarang, pinggiran sungai Ciliwung tidak begitu padat dengan rumah-rumah kumuh yang sering terbawa banjir besar yang melanda Ibukota NKRI. Itulah bedanya kita dengan mereka, sungai bisa menjadi tempat wisata yang mengasyikkan dan kita bisa berlayar menikmatinya di hari libur tanpa perlu menutup hidung kita seperti yang perlu dilakukan ketika berwisata dengan perahu di area Dukuh Atas.

Last but not Least.
Love, is truely happened everywhere in Paris!!!

-Dian-