"Blistering Barnacles! = "Kepiting Busuk" = "Kodok Buduk!" ???

Pagi ini, Selasa 17 Juni 2008, adalah hari yang kutunggu-tunggu sejak dari Jum'at kemarin. Ya, sejak aku membaca informasi bahwa seri ke-9 Tintin versi terbitan Gramedia akan berada di seluruh Toko Buku Gramedia. Karena arah kantorku adalah SCBD maka aku berencana untuk mampir dulu ke Gramedia Plangi. Alhamdulillah jalanan hari ini tidak begitu macet, apa mungkin anak sekolah sudah mulai liburan ya?? Billions of bilious blue blistering barnacles in a thundering thyphoon dah!! Seri ini aku tunggu-tunggu karena penasaran dengan bagaimana Gramedia akan menerjemahkan makian khas dari Captain Haddock di serial Tintin yang terkenal itu. Oh ya, tadi Capt. Haddock kirim salam ke semua yang telah membantunya mendapatkan KIMS untuk bisa tinggal dan berkarya di Indonesia setelah beberapa waktu lalu tidak bisa tinggal lama karena ijin tinggalnya belum diurus.
Tepat pukul 10:04 aku tiba di pintu G
ramedia Plangi, tapi sayangnya lampu-lampunya masih mati, cuman lampu di bagian belakang aja yang sudah menyala, apa mereka masih belum selesai dengan brefing paginya yaa?? Tak lama kemudian pintu besi diangkat oleh petugas Gramedia dan aku langsung bergegas menuju ke bagian komik. Karena aku orang pertama, maka para petugas Gramedia masih berdiri di masing-masing counter dan memberikan ucapan salam selamat pagi untukku.. He.. He.. He.. He..

Kuedarkan pandanganku untuk mencari "Kepiting Bercapit Emas", tapi tak kutemukan dia di rak yang memajang seluruh serial Tintin berbahasa Indonesia. Untuk berjaga-jaga, aku minta tolong ke temenku untuk memberikanku nomor HPnya salah seorang penerjemah serial ini dari Gramedia. Jikalau sampai tidak kutemukan buku ini di Gramedia ini, pasti dia (temenku dari Gramedia ini) yang pertama-tama akan kukomplaint, He.. He.. He.. Petugas yang ada cukup kebingungan juga mengapa judul yang kucari tak ada, dan langkah pertama dia mengecek di Komputer..... dan hasilnya Nihil... Tapi dia tidak mau menyerah, dan dia langsung berinisiatif untuk langsung melangkan ke Gudang dan Voila dia kembali dengan "Kepiting Bercapit Emas" ditangannya.. Yupie... Ya udah langsung aku bergegas ke kasir untuk membereskan pembayarannya..

Begitu sampai kantor dengan tak sabar aku buka buku itu, ada yang aneh. Dalam buku ini tak kutemukan lagi pamflet yang mempromosikan Tintin dengan registrasi ke Indosat, apa emang udah tak ada ya?? Pelan-pelan aku baca dan kunikmati halaman demi halaman.

Halaman 10, Allan dalam terbitan GPU dipanggil dengan nama Mualim. Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia kutemukan arti dari Mualim adalah "Perwira Kapal berijazah Pelayaran Niaga Nautika". Sedangkan dalam Tintin berbahasa Inggris, Allan disebut sebagai Mate yang artinya "Perwira Kapal dibawah Kapten". Sedangkan dari Indonesia Wikipedia aku dapatkan hirarki Perwira di Departemen Dek adalah:
  1. Kapten/Nahkoda/Master
  2. Mualim I/Chief Officer/Chief Mate
  3. Mualim II/Second Officer/Second Mate
  4. Mualim III/Third Officer/Third Mate
  5. Markonis/Radio Officer/Spark
Kalau kita melihat cerita secara keseluruhan dimana dalam hal ini Kapten dari Karaboudjan adalah Kapten Haddock, maka tentunya jabatan yang pas untuk Allan adalah nomor 2 yaitu Mualim I/Chief Officer/Chief Mate. Aku sich lebih enak ngebacanya kalau dalam terbitan Indonesia ini jabatan Allan adalah Chief Mate. Entah dengan alasan apa penerjemah Gramedia menerjemahkannya hanya menjadi Mualim saja ya?

Halaman 23, dimana penembak Tintin dan Kapten yang sedang memperbaiki pesawatnya yang terkena "Lucky one shoot" Tintin, terjemahannya agak sedikit mengganggu. Alangkah indahnya jika bisa diperbaiki sehingga menjelaskan secara singkat bahwa tembakan Tintin adalah tembakan yang beruntung, satu kali tembak langsung kena (menurut mereka, padahal Tintin memang dikisahkan sebagai penembak jitu) dan langsung mengenai bagian vital dari pesawat amphibi tersebut.

Kata-kata Makian Haddock

Yang paling kutunggu adalah terjemahan dari Gramedia atas makian Haddock. By the way aku udah lupa dengan terjemahan dari Indira, karena yang kupunya sekarang hanyalah Tintin yang berbahasa Inggris terbitan Egmont. Dibawah ini kunukilkan beberapa makian Haddock yaitu:

  • "Whipperssnapper" (halaman 25) diterjemahin menjadi Teri. Secara paragraph cukup lucu sich..
  • "Revenge" (halaman 37) diterjemahin menjadi "Dendam Kesumat". Aku rasa kurang mewakili ekpresi Haddock yang teramat marah dech, tapi it's OK.
  • Kumpulan makiannya masih di halaman 37 yang dalam Bahasa Inggrisnya adalah "Swine!; Jellyfish!; Tramps!; Troglodytes! Toffe-noses!" menjadi "Babi!; Kuda Nil!; Anjing Laut!; Buaya Darat!" Aku mulai agak kepingkel-pingkel ngebacanya, apalagi dengan kata-kata Buaya Darat. Apa penterjemah terpengaruh dengan lagunya Maia yang memaki dengan kata-kata "Busyet!" dan "Buaya Darat!"?
  • Masih pada kumpulan makian di halaman yang sama dari kata-kata "Savages!; Aztecs!; Toads!; Carpet-sellers; Iconoclasts!" menjadi "Kampret!; Monyet!; Kontet!; Babi Ngepet!" Hua.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Babi Ngepet?? Rasa-rasanya penerjemah udah kebanyakan nonton film-film horor Indonesia nich...
  • Di halaman berikutnya, ada kata-kata"Rats!; Ectoplasms!; Freshwater swabs!; Cannibals!; Bashi-Bazouks!; Caterpillars!; Cowards!; Baboons!; Parasites!; Pockmarks!" diterjemahkan menjadi "Tikus Got!; Cacing Kremi!; Kecebong!; Kutu Busuk!; Kanibal!; Ulat Bulu!; Pengecut!; Babon!; Parasit!; Cacar Air!". Cacing Kremi?? Jadi teringat iklan lama tentang Daktarin yang bilang "Jeng, anaknya Cacingan? Tentu tidak! Khan udah pake ************* (disensor biar gak dikira iklan).. He.. He.. He..
  • Halaman 42, di versi bahasa Inggris mereka mempergunakan idiom "Blistering Barnacles!" dan di versi Gramedia diterjemahkan menjadi Kodok Buduk!? Emang ada ya Kodok Budukan?? Aku rasa masih lebih enakan terbitannya INDIRA yang menerjemahkannya menjadi "Kepiting Busuk!". Tapi tentunya karena makian itu sudah menjadi trade mark dari Indira maka tentunya Gramedia tidak bisa lagi memakainya.
  • Halaman 55, ada kata-kata makian yang cukup menggelitik yaitu "Kuya!" Ha.. Ha.. Ha.. Ini pasti ngambil dari kata makian "Kutu Kuya!" ya? Ha.. Ha.. Ha.. Selengkapnya kata makiannya adalah "Bangsat!; Buaya!; Bekicot!; Biang Kerok!; Najis!; Buduk! Perompak!; Vegetarian!; Politikus!"
  • Halaman 56 dan 57, kumpulan makiannya adalah: "Bajak Laut!; Siput!; Badut!; Biawak!; Kadal!; Kera! (Mungkin lebih enaknya "Monyet!" kali yee); Ubur-ubur!; Dendam Kesumat!; Babon!; Malaria!; Kelapa!; Kambing!; Kanibal!; Antropitekus!; Gagak Peyot!; Susu Basi!; Keledai!; Bekicot!; Panu!" Lumayan menggelitik sich.. Hi.. Hi.. Hi...
Halaman 55, diceritakan bahwa Tintin dan Haddock sedang mabuk berat terkena uap dari minuman keras yang tumpah dari gentongnya. Disana penerjemah mencuplik salah satu lagu dangdut terkenal yang memiliki lirik "Aku bukan Pengemis Cinta" Hua.. Ha.. Ha.. Aku merasa bahwa penerjemah cukup suka dengan lagu-lagu dangdut, atau jangan-jangan sering nongkrongin KDI di TPI gitu?

Secara keseluruhan Gramedia cukup bisa menerjemahkan Tintin ke dalam Bahasa Indonesia kembali dan dengan ini aku ucapkan Selamat Datang Kembali ke Indonesia Capt. Haddock!!

Salam "Billions of Bilious Blue Blistering Barnacles in a Thundering Typhoon!"

-Dian-

F1 Grand Priz du Canada - 2008 dan Nasionalisme Indonesia

Kali ini aku enggak akan mengulas bagaimana jalannya perlombaan, karena kita sudah sama-sama tahu untuk kali ini pemenangnya adalah Robert Kubica, Nick Heidfeld dan David Coulthard sebagai nomor satu, dua dan tiga. Dimana dengan hasil ini menjadikan apa yang ditakuti oleh Ferrari dan Mc Larren menjadi kenyataan, yaitu BMW Sauber menjadi "the real contender". Ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal musim dimana salah satu pembalap BMW Sauber, Robert Kubica beberapa kali menapaki tangga podium. Tercatat di website resmi Formula 1, Kubica pernah mengenyam posisi kedua di Malaysia, dan Monaco dan posisi ketiga di Bahrain. Kubica yang memiliki tanah kelahiran di Polandia, negeri yang bukan latar belakang Formula 1 dibandingkan dengan Monaco ataupun Inggris mampu menunjukkan keseriusannya dalam menjadikan dirinya "the number one" dalam ajang balapan jet darat ini.


Sebenarnya yang pengen aku ulas dalam balapan kali ini adalah ketika Kubica naik podium sebagai juara pertama di Canada, terpampang dengan jelas tulisan PETRONAS di dada baju balapnya. Petronas, sebagai salah satu perusahaan yang mengelola hasil bumi dari negeri jiran kita, Malaysia, telah berhasil menjadikan ajang Formula 1 sebagai salah satu tempatnya untuk berpromosi dengan sebaik-baiknya. Perusahaan ini dulunya banyak mendatangkan para ahli dari Indonesia. Teringat aku akan cerita Kakekku yang dengan bangganya menceritakan bahwa PETRONAS dulu banyak belajar dari orang pintar Indonesia. Banyak sekali orang-orang berotak encer dari negeri ini yang dikirim ke Malaysia, menjadi dosen disana dan menularkan ilmu-ilmu kita kepada mereka. Namun seiring dengan waktu berjalan, PERTAMINA, sebagai tempat soko guru PETRONAS, hingga saat ini masih "begini". Di Jakarta sudah ada beberapa SPBU PETRONAS yang berdiri dengan megahnya sedangkan tidak satupun terlihat adanya SPBU PERTAMINA di negeri jiran Malaysia. Untuk bisa menjadi sponsor di ajang prestius Formula 1, tidaklah mudah dan tentu saja dana yang dibutuhkan tidaklah sedikit, namun PETRONAS mampu untuk mewujudkannya.

Hal kedua yang cukup menyesakkan dada adalah ketika bendera Polandia dinaikkan untuk menghormati kemenangan Kubica maka semakin miris rasanya dada ini. Untuk diketahui, penaikan bendera kemenangan dilakukan dalam posisi tidur sehingga posisi bendera dalam kondisi vertikal bukan sebagaimana layaknya bendera suatu negara dikibarkan. Terlihat di layar kaca seolah-olah sang Saka Dwi Warna, Merah Putih yang sedang dinaikkan, namun ternyata itu adalah bendera Polandia. Kebetulan warnanya sama dengan Sang Saka Kita, Merah dan Putih. Namun untuk bendera Polandia, warnanya adalah Putih dan Merah. Sedih sekali melihat kenyataan bahwa negeri yang teramat kucintai ini semakin hari semangkin terpuruk. Di saat negeri-negeri tetangga sudah bangkit dan siap menatap masa depan, kita masih disibukkan dengan pertikaian antar pendukung PILKADA, Demo BBM, Mafia di Kejaksaan dan isu-isu lainnya. Di saat ada kesempatan untuk menegakkan dada di ajang Thomas dan Uber Cup, hanya Tim Uber Indonesia yang menghibur dengan tampil sebagai runner-up, yang merupakan suatu yang luar biasa karena di luar dari apa yang ditargetkan. Tim Thomas 2008 kita entah kemana??

Kapankah Kita dapat berdiri tegak dan sejajar dengan bangsa lain??? Kapan????

-Dian-

Rubella dan Kehamilan

Aku cuman bermaksud nambahin informasi saja perihal postingan di Blog-ku yang berjudul, Rubella tersebut, tertanggal 2 April 2008. Dari informasi Prof. Dr. Santoso Cornain yang menangani Kami dan bayi Kami, ternyata, anak-anak yang divonis terkena Rubellan dan sejenisnya ketika mereka masih dalam kandungan dan kedua orang tuanya mempertahankan mereka dengan cara berobat secara teratur dan selalu memohon kepada-Nya, menjadikan mereka, anak-anak itu terlahir dengan IQ yang diatas rata-rata, Alhamdulillah. Memang sungguh agung ciptaan-Nya....

-Dian-

Mie Jowo di Kali Malang, Pondok Kelapa

Udah lama sekali aku pengen mampir ke rumah makan Mie Jawa "Jogja" yang sering aku lewatin kala aku melintas dari arah Kalimalang, Jakarta Timur ke arah Jalan Raden Inten. Dari namanya mengingatkanku akan Mie Jawa yang pernah aku nikmatin di Yogyakarta dulu. Waktu itu Mie Jawa yang kunikmatin pas sore-sore menjelang malem cukup mbikin aku masuk angin. Bukan kenapa-kenapa, karena waktu itu kita datengnya berombongan sekitar 7 orang. Udah gitu pas rombongan kita dateng, udah banyak orang yang pesen. Ditambah lagi pesenan kita yang waktu itu gak seragam, ada yang pesen Mie Godog, Mie Goreng, Nasi Goreng, jadinya nunggunya kelamaan dech. Aku sendiri sich ampe kekenyangan ama Es Kopyor yang aku pesen ampe dua gelas.

Warung ini posisinya ada di daerah pertemuan antara jalan Masjid Al-Wustho, jalan Inspeksi Kali Malang dan Pondok Bambu. Lebih jelasnya ya liat di peta disamping ini. Peta ini bisa diakses pada PETAKU Outlet makanan ini biasanya baru buka dari jam 17:00-an dan biasanya baru tutup ketika semua menunya habis. Dari wawacanda dengan Masnya yang lagi masakin Mie Goreng pesenanku, biasanya sich mereka buka sampai dengan jam 23:00-an. Tapi pas Senin malem kemarin, jam 20:30 aja hampir semua menu makanan yang ada udah ampir habis dipesan. Mungkin bisa jadi jam 21:30 mereka udah tutup. Selama ini rasanya mereka menerapkan filsafat Jawa, dimana jualan hari itu ya pas hanya untuk hari itu. Kalau ternyata banyak peminat pas hari itu, ya dengan terpaksa ditolak. Begitu juga dengan pas sisa, ya udah dibuang, karena semua masakannya tidak pakai pengawet sehingga hari itu juga musti habis, kalau gak habis ya musti dibuang.

Akhirnya hari itu, malem Senin di awal bulan Juni 2008, aku mendapatkan kesempatan untuk mampir ke warung itu. Pas aku masuk sudah banyak antrian, jadinya terpaksa nunggu dulu diluar. Iseng-iseng aku liatin menunya, ada Mie Goreng, Mie Rebus baik yang biasa ataupun Istimewa. Kalau di Yogyakarta sich namanya Mie Godog, karena cara masaknya memang digodog alias direbus. Trus ada Bihun Goreng, Rebus dan Nasi Goreng. Dari sekian menu itu, aku tertarik dengan menu yang namanya Nasi Magelangan, nach apa ini?? Aku tanya aja langsung ama mereka apa yang mereka maksud dengan menu yang satu ini. Eh ternyata menu ini adalah Nasi Goreng dicampur dengan Mie Goreng, eh asyik juga. Begitu aku mau pesen, eh udah habis, adanya tinggal Nasi, Mie atau Bihun aja.

Hal lain yang menarik dari Outlet atau Depot ini adalah cara memasaknya. Umumnya untuk memasaknya adalah pake Minyak Tanah atau pake Gas LPG, tapi di Depot ini memasaknya pake Anglo alias pake bahan bakar dari Arang. Dari pengalamanku selama ini, dengan memakai Anglo biasanya rasa masakannya menjadi lebih enak atau gurih, entah mengapa. Mungkin ini bisa jadi obyek penelitian menarik untuk anak-anak Kimia yang bisa meneliti kandungannya. Hal lain yang menarik darinya adalah tersedianya menu Teh Poci. Inget teh ini menjadikanku teringat dengan salah satu President Direktur P.T. Merpati Nusantara, Pak Wahyu Hidayat yang memimpin BUMN Penerbangan plat merah ini di tahun 2000-an. Beliau punya kebiasaan diwaktu meeting di sore hari, maka yang menjadi menu wajib adalah Teh Poci dengan teman-temannya, yaitu Telo Goreng/Rebus, Kacang Rebus, Ubi Rebus dan segala makanan kecil lainnya yang identik dengan makanan Wong Ndeso katanya. Padahal, aku ndiri sich bangga jadi orang Ndeso, karena hanya dari Ndesolah kita bisa makan Nasi. Emang mau kayak Jepang yang semuanya diHidroponik karena tanahnya udah gak bisa ditanemin lagi setelah dibom atom ama Amrik? Yang jelas warung ini menyediakan menu khas Jawa, dengan komunitas Jawa yang sudah agak jarang dikenal ama anak-anak muda sekarang. Mereka lebih bangga dan senang pake Bahasa Gaul seperti "Loe, Gue, Anak Nongkrong, Coy" tinimbang, Arek, Aku, Kowe dan lain-lain. Untuk harga sich lumayan terjangkau, tapi kalau ada orang pesen agak banyak dan menunya bervariasi maka kita musti ekstra sabar. Tapi tenang aja, orang Jawa itu sabar-sabar koq.. He.. He.. He.. He...

-Dian-