F1 Grand Priz du Canada - 2008 dan Nasionalisme Indonesia

Kali ini aku enggak akan mengulas bagaimana jalannya perlombaan, karena kita sudah sama-sama tahu untuk kali ini pemenangnya adalah Robert Kubica, Nick Heidfeld dan David Coulthard sebagai nomor satu, dua dan tiga. Dimana dengan hasil ini menjadikan apa yang ditakuti oleh Ferrari dan Mc Larren menjadi kenyataan, yaitu BMW Sauber menjadi "the real contender". Ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal musim dimana salah satu pembalap BMW Sauber, Robert Kubica beberapa kali menapaki tangga podium. Tercatat di website resmi Formula 1, Kubica pernah mengenyam posisi kedua di Malaysia, dan Monaco dan posisi ketiga di Bahrain. Kubica yang memiliki tanah kelahiran di Polandia, negeri yang bukan latar belakang Formula 1 dibandingkan dengan Monaco ataupun Inggris mampu menunjukkan keseriusannya dalam menjadikan dirinya "the number one" dalam ajang balapan jet darat ini.


Sebenarnya yang pengen aku ulas dalam balapan kali ini adalah ketika Kubica naik podium sebagai juara pertama di Canada, terpampang dengan jelas tulisan PETRONAS di dada baju balapnya. Petronas, sebagai salah satu perusahaan yang mengelola hasil bumi dari negeri jiran kita, Malaysia, telah berhasil menjadikan ajang Formula 1 sebagai salah satu tempatnya untuk berpromosi dengan sebaik-baiknya. Perusahaan ini dulunya banyak mendatangkan para ahli dari Indonesia. Teringat aku akan cerita Kakekku yang dengan bangganya menceritakan bahwa PETRONAS dulu banyak belajar dari orang pintar Indonesia. Banyak sekali orang-orang berotak encer dari negeri ini yang dikirim ke Malaysia, menjadi dosen disana dan menularkan ilmu-ilmu kita kepada mereka. Namun seiring dengan waktu berjalan, PERTAMINA, sebagai tempat soko guru PETRONAS, hingga saat ini masih "begini". Di Jakarta sudah ada beberapa SPBU PETRONAS yang berdiri dengan megahnya sedangkan tidak satupun terlihat adanya SPBU PERTAMINA di negeri jiran Malaysia. Untuk bisa menjadi sponsor di ajang prestius Formula 1, tidaklah mudah dan tentu saja dana yang dibutuhkan tidaklah sedikit, namun PETRONAS mampu untuk mewujudkannya.

Hal kedua yang cukup menyesakkan dada adalah ketika bendera Polandia dinaikkan untuk menghormati kemenangan Kubica maka semakin miris rasanya dada ini. Untuk diketahui, penaikan bendera kemenangan dilakukan dalam posisi tidur sehingga posisi bendera dalam kondisi vertikal bukan sebagaimana layaknya bendera suatu negara dikibarkan. Terlihat di layar kaca seolah-olah sang Saka Dwi Warna, Merah Putih yang sedang dinaikkan, namun ternyata itu adalah bendera Polandia. Kebetulan warnanya sama dengan Sang Saka Kita, Merah dan Putih. Namun untuk bendera Polandia, warnanya adalah Putih dan Merah. Sedih sekali melihat kenyataan bahwa negeri yang teramat kucintai ini semakin hari semangkin terpuruk. Di saat negeri-negeri tetangga sudah bangkit dan siap menatap masa depan, kita masih disibukkan dengan pertikaian antar pendukung PILKADA, Demo BBM, Mafia di Kejaksaan dan isu-isu lainnya. Di saat ada kesempatan untuk menegakkan dada di ajang Thomas dan Uber Cup, hanya Tim Uber Indonesia yang menghibur dengan tampil sebagai runner-up, yang merupakan suatu yang luar biasa karena di luar dari apa yang ditargetkan. Tim Thomas 2008 kita entah kemana??

Kapankah Kita dapat berdiri tegak dan sejajar dengan bangsa lain??? Kapan????

-Dian-

No comments: