Senin Pagi (28 Juli 2008), Wall-E dan SOHO

Pagi ini rasanya aku masih pengen bermain-main dengan kedua jagoanku dan ngebayangin macetnya "belantara" Ibukota membuatku semangkin enggan membawa tubuhku ke kamar mandi. Iseng-iseng aku temenin anakku yang sedang lagi nyetel film "Wall-E". Film ini ada film-film semacam "Toy Story" dan kanca-kancanya yang menceritakan bumi di beberapa puluh tahun yang akan datang. Pada masa itu bumi bukan suatu tempat yang layak lagi untuk dihuni. Pada masa itu bumi hanyalah tempat tumpukan sampah. Karena bumi sudah tidak menjadi tempat yang layak huni, maka semua manusia telah diungsikan ke jagat raya dalam suatu kapal ruang angkasa.

Namun dibalik semua itu, sebenarnya manusia sebagai penghuni bumi masih ingin sekali kembali ke bumi. Oleh karena itu mereka menciptakan suatu robot pintar, Wall-E (Waste Allocation Load Lifter Earth-class). Robot ini dirancang untuk membersihkan bumi dari segala kotoran dan sampah yang ada. Dan diharapkan ketika sampah itu sudah bersih, maka tetumbuhan akan dapat tumbuh kembali, menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh manusia, menciptakan pelindung alami yang disebut lapisan ozon, yang melindungi umat manusia dari sinar mentari yang bisa merusak. Si Wall-E, selain menjalankan tugasnya sebagai robot pembersih, sebenernya tidak sendirian tetapi dikarenakan satu dan lain ketika manusia pergi mengasingkan diri dari bumi yang sudah penuh sampah, mereka lupa untuk mematikan satu robot ini, dan hanya dia seorang yang tinggal ditemani oleh seekor kecoa. Ketika melihat kecoa itu, aku berucap Subhanallah, Maha Suci Allah SWT yang telah menciptakan seekor kecoa. Ternyata makhluk Allah itu adalah seekor binatang yang memiliki tingkat ketahanan hidup yang teramat tinggi. Bahkan suatu penelitian pernah mengungkap bahwa seekor kecoa tidak akan mati jikalau kepala dan lehernya masih menyatu, Subhannallah..

Dari situ, hatiku mulai tersentil, dan mulai kuraih handukku, tapi langkahku masih tertahan untuk ngikutin terus film ini. Layarpun berpindah ketika secara tak berapa lama bumi kedatangan tamu robot lain yang berwarna putih bernama EVE. Dia adalah sebuah robot eksperimen yang ditugaskan turun ke bumi untuk nantinya memberikan sinyal kepada para manusia bahwa sudah saatnya kembali ke bumi. Secara tidak sengaja, si Wall-E menemukan bahwa dari sekian banyak sampah yang berserakan di muka bumi, ada kecambah yang tumbuh terlindung dari badai radio aktif yang sering terjadi. Karena si Wall-E ini sukanya mengumpulkan benda-benda menarik, maka dia mengambil tanah dan kecambah tadi untuk disimpannya dalam koleksinya. Pertemuan mereka memberitahukan EVE bahwa ada harapan pada umat manusia untuk kembali pulang ke rumah di bumi yang tercinta ini.

Di lain pihak, didalam kapal ruang angkasa, makhluk bumi sudah lupa dengan fitrahnya sebagai manusia yang musti jalan, berkomunikasi dengan verbal dan lain sebagainya. Mereka sudah lama sekali dimanjakan oleh teknologi, dimana semuanya dirancang serba otomatis, sehingga postur tubuhnya jadi melar dan gemuk sekali. Kalaupun pengen maen tenis, maka robot yang akan menggantikannya dan mereka hanya duduk, minum dan makan plus menontonnya. Tentu saja selama lebih dari 700 tahun maka tubuh mereka menjadi super dupper gemuk. Mereka bahkan sudah lupa rasanya berpegangan tangan, semuanya sudah diatur oleh robot-robot pintar sehingga umat manusia melupakan fitrahnya. Kedatangan Wall-E dengan kecambahnya dan bantuan EVE plus beberapa robot yang tidak lolos seleksi Team Quality Control, mereka bahu membahu menyadarkan sang Kapten kapal bahwa ada kesempatan untuk memperbaiki bumi.

Dari peristiwa hari ini aku menjadi semangkin kuat untuk berkeingann bisa bekerja dari rumah. Hal ini bahkan sering sekali disitir oleh anakku yang pertama Rayhan, yang dengan santainya bilang "Papa ngapain musti ke kantor? Khan rumah Papa kantor juga. Papa khan bisa juga kerja dari rumah." Walau kata-katanya itu sering kudengar tapi tak henti-hentinya aku tertegun kala dia berbicara seperti itu. Apakah itu pertanda bahwa keinginanku untuk kerja dari rumah sehingga aku punya banyak waktu dengan keluarga akan segera terwujud? Insyallah, amin. Kedua, dari film itu aku belajar untuk tidak terlalu memanjakan diriku dan lebih aktif lagi bergerak, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabiullah Muhammad SAW yang justru semakin giat bekerja di kala puasa. Bisakah aku?? Tentu saja bisa dunk... Hal lainnya yang kupelajari dari pilem ini, walau bagaimanapun umat manusia tidak bisa lari dari fitrahnya sebagai makhluk "Homo Homini Lupus", dimana ia ditakdirkan untuk hidup bersosialisasi dan tidak sendirian.

Hmmm... Suatu renungan yang menarik yang kudapatkan pagi ini, dan tak lupa kubersyukur pada-Nya, Alhamdulillahirrobil alamin atas semua karunia-Nya...

Yang Baru Saja Kusadari - Tintin

Alhamdulillah akhirnya kelar juga aku buat ngeberesin Kotak Info tentang Tintin ID di Indonesia Wikipedia. Selama aku melakukan kerjaan itu ada beberapa hal kecil yang baru kusadari ketika melakukan pencatatan atas buku-buku tentang Tintin ini untuk lalu dimasukkan dalam Indonesia Wikipedia itu. Pencatatan itu aku ambil dari sampul dalam buku komik serial "Petualangan Tintin" dalam Bahasa Indonesia yang sudah diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama (GPU). Dalam sampul ini akan memuat informasi lebih detail tentang suatu buku, seperti Nomor ISBN, siapa penterjemahnya, kapan diterjemahkan, kapan terbit pertama kalinya, apa judul aslinya, dan banyak hal lainnya.


Hal-hal yang menarik perhatianku itu adalah:
  1. Ternyata ada pola tertentu yang diberikan oleh GPU dalam memberikan kode atas bukunya. Kode yang diberikan untuk serial ini adalah GM 310.08.XXX, dimana XXX adalah tiga digit yang "seharusnya" melambangkan urutan buku. Jadi seharusnya buku yang pertama, seharusnya memiliki kode GM 310.08.001. Tapi...ketika aku cermati, buku yang pertama yang berjudul "Tintin di Tanah Sovyet" memiliki kode GM 310.08.002 dan buku kedua yang berjudul "Tintin di Congo" malah memiliki kode GM 310.08.001. Hal ini sedikit menggelitikku karena ini tidak lazim, mengapa? Karena pada buku-buku selanjutnya XXX akan mewakili buku keberapa dia dalam urutan 24 Judul serial "Petualangan Tintin" yang sudah diselesaikan oleh penciptanya. Aku beranggapan, bahwa kemungkinan pihak GPU bermaksud menerbitkan "Tintin di Congo" lebih dulu sebelum "Tintin di Tanah Sovyet".
  2. Hal lainnya yang aku ketemukan, adalah kapan "kemungkinan" terjemahan ke dalam Bahasa Indonesianya disetujui oleh pihak penerbit aslinya, Casterman. Data ini aku ambil dari bagian yang menyatakan hak terjemahannya ada pada Casterman/Gramedia tahun XXXX. Dari 11 judul yang sudah kupunya, ternyata ada beberapa kisah yang sudah disetujui oleh pihak Casterman tentang terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia di tahun 2007, mereka adalah "Tintin di Tanah Sovyet", "Tintin di Congo", "Tintin di Amerika", "Cerutu Sang Firaun", "Pulau Hitam" dan "Kepiting Bercapit Emas". Namun entah kenapa serial ini baru diterbitkan pada tahun 2008, hanya pihak GPU yang bisa menjelaskannya.. Namun kembali perlu diingat bahwa ini hanyalah dugaanku atas temuanku itu.
  3. Dari sekian banyak buku komik "Petualangan Tintin" terbitan GPU, hingga saat ini baru ada dua penerjemah serial ini yang tercantum dalam "credit title"nya, yaitu Donna Widjajanto dan Dini Pandia. Berbeda dengan terbitan INDIRA, karena terjemahan dilakukan secara kroyokan, maka yang tercantum dalam credit title itu hanyalah "Team Indira". Kalau GPU, dugaanku, dua nama ini adalah mereka yang bertanggung jawab atau pimpinan dari team penterjemah, ataupun bisa jadi memang mereka menerjemahkan serial ini sendiri ke dalam Bahasa Indonesia tanpa bantuan dari suatu team. Hal ini cukup menarik perhatiannku dikarenakan serial ini telah ada sejak tahun 80-an sehingga boleh dibilang semua artis yang masa mudanya dihabiskan di tahun tersebut pasti tahu dan membaca serial komik ini. Konsekuensinya, GPU akan menghadapi tekanan dan tantangan yang amat besar dari para penggemar Tintin yang sudah ada sebelum mereka menerbitkan ulang serial ini. Namun hingga detik ini aku lihat mereka mampu untuk menyelesaikan tantangan dan tekanan tersebut, bravo..


Sampai berjumpa dengan infoku yang lain lagi tentang Tintin terutama sekali karena proyek pribadiku untuk mengupdate Wikipedia Indonesia masih terus berjalan...

Cara Kerja Modern

Pagi ini (22/7/200) ketika aku ngebrowse harian "Kompas" edisi cetak, mataku langsung tertuju pada tulisan dari bang Ninok Leksono dari bagian IPTEK yang membahas mengenai Rapat Virtual dan Cara Kerja Modern, yang edisi elektroniknya bisa dibaca disini. Pelan-pelan aku baca apa yang beliau tuliskan, dan ternyata beliau mengulas secara singkat konsep kantor dalam sebenarnya dan kantor virtual. Dalam tulisan beliau juga digambarkan bagaimana dengan teknologi Video Conference, memungkinkan bahwa para peserta dapat menghadiri rapat tanpa perlu takut akan jetlag, lelah karena penerbangan panjang antara benua (dari USA ke Asia bisa sampai 15 jam-an lebih waktu dihabiskan dalam penerbangan) dan pemborosan waktu yang dipergunakan hanya untuk perjalanan dinas. Dengan teknologi ini maka memungkinkan para eksekutif memiliki waktu luang dengan keluarganya lebih banyak lagi.

Sebentuk senyum simpul tersungging di ujung bibirku karena pernah mengalami hal ini ketika masih kerja dengan salah satu perusahaan multi nasional berpusat di Geneva, Swiss. Perusahaan ini adalah perusahaan dunia dengan tidak kurang dari 140 kebangsaan di dalamnya. Di divisi Sales, akulah orang Indonesia satu-satunya dan sudah sering sekali aku ikutan rapat online, namun media yang kugunakan hanyalah telepon. Jadi karena perusahaan ini adalah perusahaan global, maka sudah pasti ada nomor akses lokal di hampir setiap negara. Sehingga ketika akan melakukan rapat, undangannya dikirimkan via email dengan segala keterangan tambahan termasuk waktu rapat. Dalam email ada fasilitas yang bisa membuat kita tahu jam berapa meeting itu diselenggarakan sesuai dengan waktu setempat. Walaupun undangan rapat berdasarkan waktu UTC, dengan tools tersebut, bum, aku tahu jam berapa aku musti dial-in.

Rapat Online yang biasa aku lakukan adalah dengan dial-in nomor tertentu pada waktu yang telah disepakati dan menyebutkan nama. Kemudian dimulailah rapat itu. Untuk divisiku, Sales, rapat rutin selalu diselenggarakan pada hari Senin, jam 11:00 WIB, atau pas jam makan siang di Singapore, atau sudah menjelang sore untuk kantor Sydney dan baru mulai jam kerja di India. Beberapa kali aku sering menghadiri rapat yang diadakan pada tepat jam 01:00 WIB, karena waktu itulah yang pas untuk rekan-rekanku di UK dan USA melakukan meeting. Namun kadangkala mereka juga mengikuti jam Indonesia, misalnya ketika musti dilakukan suatu presentasi hingga Live Demo langsung dari Atlanta. Perbedaan waktu antara Atlanta dan Jakarta adalah 12 jam. Presentasi itu dijadwalkan mulai jam 09:00 WIB atau tepatnya jam 21:00 di Atlanta, dan baru berakhir jam 15:00 WIB atau jam 03:00 pagi di Atlanta. Sungguh suatu pengalaman yang unik, melelahkan namun aku rasa lebih efektif dan produktif. Karena dengan fasilitas ini secara profesional aku bisa mengatur waktuku sendiri, kapan musti ketemu dengan client, kapan musti OnLine dengan team support dan lain sebagainya. Terlebih lagi dengan kemacetan Jakarta yang semakin parah fasilitas ini memberikan banyak dukungan sehingga aku bisa ikutan rapat hampir dimanapun. Bahkan pernah beberapa kali aku melakukannya di mobil yang sedang diparkir di areal parkir customer karena setelah rapat aku musti langsung bertemu dengan customerku. Dengan ini aku merasa sudah tidak ada lagi batas negara dan bahasa, dan itu membuatku mengartikan WWW bukan lagi sebagai World Wide Web tapi World Wide Workplace, karena tidak jarang aku masih "bekerja" sambil mengawasi anak-anakku yang sedang asyik berenang di salah satu Hotel di Sanur, Bali He.. He.. He..

Masjid Cut Mutiah


Pagi yang cukup enak dan cerah hari Selasa, 22 Juli 2008 ini. Udara yang cukup segar di pagi hari membuatku merasa lebih enak dan nyaman untuk bisa berangkat ke tempat kerja serta bertemu beberapa teman. Pagi ini seperti biasanya ruteku adalah melewati jalan Cut Mutiah trus masuk ke area kedutaan German dan langsung ke arah SCBD. Sebenarnya sudah seringsekali aku melewati Masjid Cut Mutiah ini, namun entah kenapa pagi ini ada magnet tertentu yang menarikku sangat kuat untuk membelokkan motorku ke arahnya. Karena kuyakin bahwa ini adalah bisikan-Nya maka dengan enteng aku arahkan "Kharisma 125D"ku masuk ke pelataran parkirnya. Hari masih di pagi disana, namun kulihat beberapa loper koran sudah mulai membereskan dagangannya dan mencatat sudah berapa eksemplar koran yang sudah didistribusikan untuk kemudian diperhitungan di siang harinya. Di bagian yang lain para penjaja makanan dorongan seperti bubur ayam lagi dikerubutin ama para pembeli dan mereka keliatan riang gembira, mungkin membayangkan berapa rupiah yang bisa dibawanya pulang untuk anak dan istrinya, Subhanallah...

Setelah kuparkirkan kendaraanku, langsung aja kubertanya kepada seorang Bapak yang sedang mengatur korannya, dimana aku bisa mengambil air wudhu. Dengan ramah dan senyumanya beliau menunjukkan bahwa itu bisa dilakukan di bagian area yang berdekatan dengan Rumah Makan Padang Sederhana. Dengan segera kulangkahkan kakiku kearah itu dan segera kuambil air wudhu. Alhamdulillah terasa segar air wudhu membasahi mukaku yang agak berdebu terkena debu-debu jalanan Ibukota. Kunikmati tetes demi tetesnya sambil tak lupa kubersyukur pada-Nya yang telah memberikan daku untuk merasakan semua ini. Selesai berwudhu, kulangkahkan kakiku untuk segera masuk Masjid, namun langkahku tertahan akan panggilan seorang Bapak yang memanggilku. Oh, ternyata beliau mengingatkanku untuk menyimpan sepatuku baik-baik, karena ditakutkan ada orang yang mengambilnya kala aku bermunajat pada-Nya. Subhanallah, di lautan ketidak pedulian masyarakat Ibukota ini ternyata masih terseli orang-orang yang mau saling bantu membantu, ingat mengingatkan. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah SWT yang selalu memberikanku dan mengiring langkahku dengan orang-orang yang baik seperti itu. Menuruti sarannya, kusimpan baik-baik sepatuku dan langsung aku langkahkan kakiku ke dalam Masjid.

Pertama kali kulangkahkan kaki kedalam, terasa kesejukan hawa masjid membelaiku, mengajakku lebih masuk kedalam untuk segera bermunajat pada-Nya. Kulirik jam tanganku, ah kurasa sudah waktunya untuk menegakkan Dhuha. Segera kuhadapkan arahku ke kiblat dan kuangkat tanganku untuk segera naik ke langit ke tujuh menghadap-Nya langsung tanpa perantara. Disana di langit itu, kumerasa Allah menerimaku dengan senang hati, didengarkannya keluhanku, dibelainya hatiku, dibersihkannya hatiku agar bisa sebening kaca yang dapat memancarkan kembali Nur-Nya pada seluruh umat manusia dan jagad raya ini, Subhanallah, setelah sekian lama, baru kali ini aku rasakan kembali kesejukan ini, terima kasih ya Allah SWT.

Setelah bermunajat, kuedarkan pandanganku ke sekitar dan kulihat betapa cantiknya Masjid ini. Ornamen-ornamennya, bangunannya mengingatkanku akan bangunan sekolahku di SMAN 1 Malang yang sama-sama bangunan peninggalan/warisan Belanda. Sesampainya di kantor baru kutahu bahwa bangunan Masjid ini adalah bekas kantor NV Bouwpleg, kantor Biro Arsitek dan Developer Pieter Adriaan Jacobus Moojen (1879 - 1955). Bangunan yang bergaya arsitektur Art Nouveau ini pernah jadi Kantor Jawatan Kereta Api Belanda, Kantor Kempeitai Angkatan Laut (pada jaman Jepang). Dan setelah merdeka menjadi Kantor Urusan Perumahan dan kemudian sebagai Kantor Urusan Agama, sebelum akhirnya Gubernur Ali Sadikin meresmikannya menjadi tempat ibadah. Cerita lengkap akan Masjid ini salah satunya bisa ditemui disini. Ooopsss, karena terlena akan keelokannya aku jadi lupa untuk menegakkan Sholat Sunnah Tahiyatul Masjid, namun kuberjanji, lain kali jika aku mampir lagi kesana, tak akan kulupakan untuk menegakkanya. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah yang telah membawaku kesana dan menambah pengalaman tebal imanku dan memperkaya pengalaman spiritualku....

Herge's Cameo

Hari Minggu ini aku lagi asyik melakukan update di Wikipedia Indonesia tentang Tintin. Kali ini aku lagi memasukkan narasi tentang film-film Tintin dalam bentuk kartun yang dibuat sebagai suatu serial televisi. Serial ini sudah diputar di beberapa stasiun TV di Eropa, Amerika, India dan Indonesia. Untuk Indonesia, aku lupa apakah versinya sama dengan yang tertulis di Wikipedia Indonesia. Dalam proses penulisan itu, aku tertarik dengan ide dari Herge untuk menjadi semacam "bintang tamu" yang numpang lewat di beberapa adegan. Dari yang sudah dicatat oleh para Tintinologist di websitenya ternyata sudah lebih dari 39 adegan dia muncul dalam adegan di film. Hal ini seperti yang sering dilakukan oleh Alfred Hitchcock dalam film-filmnya.

List lengkap dari 'penampakan' Herge dalam film-film serial TV Tintin ini bisa diliat di Wikipedia Indonesia, sedangkan foto-fotonya dapat juga dilihat di bawah ini
Herge Cameo

Adipati Sengguruh ke USA???


Pagi ini aku mendapatkan suatu email yang cukup menarik perhatianku. Email ini dikirimkan oleh salah seorang rekan dari SMAku, SMA Negeri 1 Malang, Jawa Timur yang sekarang berdomisili di Hawaii, Amerika nun jauh disana. Dalam emailnya dia menyampaikan bahwa kami dari para alumni SMA N 1 Malang yang pernah mempergelarkan ludruk episode "Adipati Sengguruh" bisa dan kemungkinan besar untuk diundang mementaskannya di Hawaii, khususnya di area East West Center University of Hawaii. Hal ini dikarenakan di universitas bersangkutan sudah tersedia perangkat gamelan yang lengkap plus dengan para penabuhnya yang berhidung mancung, mata biru, kulit cerah namun sangat luwes dalam memainkan gamelan, memakai pakaian adat Jawa. Terbayang sudah dalam benakku, bule-bule itu dengan luwesnya memainkan gamelan dengan apik yang sekarang sudah banyak ditinggalkan oleh kawula muda Indonesia termasuk saya sendiri. Tak terbilang senangnya mendengar khabar bahagia ini dan segera terbayang persiapan yang melelahkan namun menyenangkan dalam rangka itu, namun......

Namun setelah ngobrol beberapa saat dengan beberapa temenku, ternyata gak gampang untuk membawa ketoprak ini biar sukses ditampilkan disana. Masalah pertama adalah bahasa. Bahasa yang dipergunakan dalam Ketoprak seringnya adalah mempergunakan Bahasa Jawa namun tidak menutup kemunngkinan untuk memakai Bahasa Indonesia. Namun ada celetukan-celetukan yang seringnya dalam Bahasa Jawa yang terkadang tidak mudah untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Dan seringkali itulah kekuatan dari Ketoprak itu sendiri yang bisa membuat para penontonnya tertawa tergelak-gelak. Lha khan jadinya gak lucu donk kalau para penonton Indonesia pada tertawa sedangkan bule-bule itu tidak ngerti apapun? Nah lho? Kalau mau pake kayak yang di PBB dimana dengan mendengarkan suara melalui headset maka yang terdengar adalah terjemahan sesuai dengan bahasa pilihan. Namun lagi-lagi kendala tidak mudah menerjemahkan celetukan-celetukan ini yang sulit.

Kemudian, ide ceritanya diambil dari beberapa cerita asli dari suatu daerah sehingga jika mau dipergelarkan di luar negeri maka musti diberikan suatu prolog yang menjelaskan jalan cerita secara garis besar dan hal-hal yang melatar belakanginya. Mungkin hal ini bisa disiasati dengan memberikan penerangan kepada mereka, sehingga paling tidak para pirsawan dengan Bahasa Inggris itu bisa memahaminya. Ada yang bisa bantu gak ya???

-Dian-

Proyek Wikipedia-ku

Hmmm.... Dengan menarik nafas panjang dan agak lega, kulonggarkan otot-otot mataku dan jemariku yang tadi bergerak dengan lincah diatas tuts papan ketikku notebookku. Setelah sekian lama otot-otot mataku serius melihat kode demi kode pemrograman yang ada di wikipedia guna melakukan berbagai macam perubahan yang cukup berarti dalam tulisan rintisanku mengenai serial komik terkenal dari Eropa, Petualangan Tintin. Ini merupakan bagian dari rasa kecintaanku pada komik ini yang muncul dari masa kecil hingga kini dan merupakan salah satu kontribusiku guna memberikan berbagai macam bekal untuk anak cucu nanti karena di masa yang akan datang, Internet akan menjadi alat yang sangat mendominasi umat manusia. Bahkan sekarang sudah banyak orang yang tidak bisa hidup tanpa Internet, bahkan pihak Pemerintah Finlandia tempat asal Black Berry sendiripun telah mengeluarkan suatu aturan bahwa ketika akhir minggu (Sabtu dan Minggu) semua pengguna Black Berry diharuskan mematikan perangkatnya. Jikalau ketahuan dan ketangkap maka yang bersangkutan akan mendapatkan hukuman yang cukup berat. Langkah ini terpaksa ditempuh oleh pemerintah tersebut dikarenakan mereka melihat bahwa dengan perangkat ini maka interaksi sosial dalam suatu keluarga boleh dibilang sudah hampir tidak ada karena sudah tergantikan dengan interaksi sosial melalui dunia virtual/maya.

Semakin dalam aku menulis di wikipedia maka semangkin banyak ilmu pengetahuan yang aku dapatkan. Baik itu mengenai Tintin itu sendiri ataupun orang-orang yang terlibat dalam proses pembuatan karya yang monumental ini.

Selain itu dengan hanya mengetikkan suatu tanggal tertentu di dalam Wikipedia kita bisa tahu banyak sekali peristiwa yang telah terjadi pada tanggal tersebut di tahun-tahun yang telah lewat. Padahal dulu niatku dalam memulai penulisan ini hanyalah didasarkan atas rasa cintaku pada komik ini dan rasa untuk berbagi atas ilmu dan kemampuanku dalam menterjemahkan suatu tulisan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Namun tidak kusangka proses penterjemahan itu juga memberikan suatu proses belajar yang mungkin tidak pernah aku dapatkan di bangku kuliah. Salah satunya adalah ketika kita mencoba menerjemahkan suatu ungkapan atau kutipan atas pernyataan seseorang dalam Bahasa Inggris maka kita dituntut tidak hanya mengerti apa yang mereka nyatakan namun musti tahu juga suasana yang terjadi di tempat tersebut di tahun tersebut, sehingga hasil terjemahan tersebut akan menjadi suatu terjemahan yang sempurna baik ditinjau dari sisi bahasa, dialek maupun kultur budaya. Hal ini juga mengingatkanku akan peringatan dari team Plurk yang memberikan kesempatan padaku untuk turut serta dalam proyek mereka guna menerjemahkan jejaring sosial yang baru, Plurk ke dalam berbagai bahasa di dunia ini sebanyak-banyak dan seluas-luasnya. Hal ini juga mengingatkanku atas ajaran dari salah satu Ustadku yang mengajarkanku bahwa untuk memahami kitab suciku. Al-Qur'an dengan sempurna, maka Kita tidak hanya dituntut mengerti bahasanya, Bahasa Arab, namun juga musti tahu apa kondisi kultural yang melatar belakangi Allah SWT menurunkan Al-Qur'an tersebut kepada Nabiullah Muhammad SAW. Dari sini aku menjadi semakin paham bahwa tak salah jikalau hanya dari surat Al-Fatihah yang terdiri atas beberapa ayat saja, terjemahan dari Bapak Quraish Syihab amatlah sangat dalam dan panjang sehingga bisa dituliskan menjadi suatu buku yang amat tebal dan itupun masih belum cukup. Pantaslah Allah SWT mengingatkan kita bahwa jikalau seluruh pepohonan ditebang dan dijadikan pena dan seluruh air di bumi menjadi tintanya, tidak akan cukup untuk menuliskan segala nikmat dan makna dari kitab suci Al-Qur'an. Ya Rabb, Allah SWT, sungguh besar karunia-Mu dan terima kasih telah memberikanku ilmu yang amat banyak serta mengijinkanku untuk memiliki hati yang selalu bersih dan masih mau mendengar-Mu...

-Dian-

Jakarta BANJIR......................

Jakarta banjir.......

Ya, kemarin selama semingguan, 28 Juni - 6 Juli, 2008, Jakarta kebanjiran buku, persis kayak gambar yang dilukiskan pada kaos yang dijual IKAPI di Istora, Gelora Bung Karno.

Pengennya sich pas acara ini aku mau nyari buku-buku Tintin, terutama dari terbitan INDIRA yang belum aku punya, namun apa daya gak bisa kesana dari hari Sabtu, 28 Juni 2008 dan baru sempet kesana dua kali yaitu pada hari Rabu, 2 Juni dan Kamis, 3 Juni 2008.




Pas aku nyampe, langsung aja aku nanya dimana tempat aku bisa mendapatkan buku-buku bekas kepada para penjaganya, dan begitu ditunjukin, langsung aja aku meluncur kesana. Pas kesana di salah satu stan aku menemukan banyak sekali, ada sekitar 30-an lebih, "Tintin dan Jeruk Biru", tapi tak ada lagi Tintin lainnya. Cukup kecewa juga aku dan kata para penjajanya, Serial Tintin termasuk buku komik yang cukup banyak dicari. Ya udah, aku nanya juga, apakah mereka punya serial "Tanguy and Laverdure"? Waaa Mas, itu sich udah langka sejak dulu atuch... Gleks, tambah kuciwa dech ati ini. Yang aku lihat sich banyak komik Nina yang bertebaran, trus Asterix, ada beberapa komik "Steven Sterk", "Johan dan Pirlout" dan beberapa buku karya Soekarno yang masih pake Ejaan lama.



Iseng-iseng aku langkahkan kakiku ke lantai 2 dan Alhamdulillah masih kutemukan tiga buku Tintin terbitan Indira, yaitu "Tintin dan Kepiting Bercapit Emas", "Tujuh Bola Ajaib" dan "Hiu-Hiu Laut Merah". Seneng sekalie menemukannya namun ada yang sedikit aneh dalam komik ini. Keanehan yang pertama adalah hasil cetakan dari buku ini dimana hasilnya kerasa banget tidak sebagus cetakan Indira yang pertama. Kemudian kala aku cermatin teks sebagaimana yang terlihat pada gambar diatas, bahwa buku ini diterjemahkan oleh PT. INDIRA, sampai sini masih OK, tapi koq ada tulisan "CETAKAN EDISI KHUSUS", apa maksudnya ya?? Rasanya yang INDIRA punya gak ada tulisan ini dech. Trus di bagian bawah tertulis bahwa komik ini dicetak oleh PT. Intermasa, loch koq?? Bukannya Indira selama ini bertanggung jawab atas percetakan dan terjemahan Tintin di Indonesia sebelum diambil alih oleh Gramedia Pustaka Utama khan? Aku jadi rada bingung aja ngebaca ini. Namun untunglah isi cerita masih persis sama dengan yang aku ingat dengan baik dalam ingatanku. Oh iya, kalau ada temen-temen yang masih berminat untuk melengkapi koleksi komiknya, coba aja kontak Pustaka Sinar Harapan dengan Bpk. Budiyono yang bisa menghubungi +62-21-9614-0558.

Dalam usahaku berenang di lautan buku ini, aku juga beli buku dengan judul "Belok Kanan : Barcelona", buku kecil yang mengungkap perjalanan ke Eropa yang dilakukan oleh empat teman dalam buku itu. Aku tertarik untuk sedikit mengulasnya nanti kala aku kelar membacanya. Di kala aku udah agak kecape'an berenang hampir dua jam mengarungi lautan buku ini, tiba-tiba mataku tertumbuk pada cahaya yang berkilauan di ufuk utara di arah jam 12 dariku. Cahayaku itu menimpa mataku berulang kali dan memanggilku untuk mendekatinya, katanya "Come and get me...". Dengan segala daya yang tersisa aku kerahkan tenaga yang ada untuk mendekatinya. Semakin dekat, kulihat ternyata itu adalah pantulan dari kilauan mahkota para Pandawa yang berdiri dengan gagahnya sepulang dari Baratayudha dalam buku komik bergambar karya R.A. Kosasih. Sudah lama sekali aku tidak membaca buku komik bergambar tentang perwayangan yang dikarang R.A. Kosasih. Aku inget banget dulu orang tuaku membelikanku satu set buku Mahabarata yang terdiri atas judul A - D. Kemudian ketika aku naik kelas, Baratayudha-lah yang menjadi teman tidurku dan habis kulalap dalam sekejab. Trus kuteruskan pengalaman membacaku dengan menyimak Pandawa Sedha yang menceritakan dengan apik bagaimana para Pandawa meninggal dunia, dan seterusnya. Aku memang tidak pernah kuat nonton wayang kulit ampe pagi, tapi baca buku karya R.A. Kosasih membuatku lupa tidur. Buat rekan-rekan yang pengen beli buku komik bergambar tentang perwayangan bisa menghubungi:

Vindo Comics, Mall The Plasa Semanggi, Lt. 2, No. 118 Blok B atau di ITC Fatmawati Lt. 1 No. 151. Mereka bisa juga dihubungi di +62-21-929-11241 atau +62-813-1818-6001 atau +62-815-91-34183. Email juga bisa di Vindo Comics atau cek website mereka di Wayangkom.

Akhirnya, setelah bersusah payah, sampailah aku ke tepian pantai, dan kulihat dari kejauhan Banjir ini telah reda. Dan kemungkinan baru akan ada banjir lagi tahun depan atau September 2008.

-Dian-


Tintin di Indonesia Wikipedia

Setelah sekian lama akhirnya 60% sudah aku menyelesaikan ambisi pribadiku untuk membagikan apa yang kuketahui mengenai serial terkenal "Petualangan Tintin" dengan menuliskannya di Indonesian Wikipedia. Sebenarnya yang kulakukan hanyalah mencoba menerjemahkan apa yang sudah dituliskan mengenai serial ini pada English Wikipedia namun dengan ada beberapa improvisasi yang aku dapat dari membaca dari berbagai sumber, buku-buku tentang Tintin, tulisan di Media Massa, ulasan dari Mas Surjorimba selaku pendiri komunitas Tintin_ID di Yahoo groups dan banyak sumber lainnya.




Memang butuh waktu dan tenaga untuk semua namun karena semua dilakukan berdasarkan Cinta maka yang ada hanya senang semata. Sebagaimana Tuhan Allah SWT yang telah menciptakan alam ini dengan segala isinya dengan penuh Cinta, mengaturnya dengan Cinta, dan merawatnya penuh rasa Cinta dan Kasih Sayang. Sungguh, Cinta dan Kasih Sayang adalah anugrah-Nya yang tak ternilai harganya yang diberikan-Nya pada kita umat manusia ini. Mengingatkanku pula pada betapa besar Cinta seorang Ibu pada anaknya dan masih banyak lagi lainnya.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati aku berharap bahwa tulisan rintisan ini bisa berguna untukku, adik-adikku penggemar Tintin dan bisa menambahkan wawasan baru, membuka cakrawala yang masih pengen kugenggam dan kuraih serta akan membawaku berkeliling dunia tanpa meninggalkan peraduanku. Terima kasih untuk Herge dan semuanya yang telah membagikan Cinta Kasih ini dan semoga ini akan abadi untuk selamanya...

-Naid-