Topeng Monyet

Siang itu di weekend yang cukup cerah di Jakarta, aku dan istriku sedang mencoba menyuapi anakku makan siang. Tapi susahnya itu loch... Eh, koq ada suara tukang topeng monyet yach. Ya udah aku panggil aja dia dan mulailah dia menggelar dagangannya dan si Topeng Monyet pun menari, berlari ataupun berjalan sesuai perintah sang pawang. Terkadang kasihan juga sich ngeliat dia dipukul kala dia tak menuruti perintah si pawang, dan duch itu rantai yang melingkar di lehernya membuatku trenyuh dan jadi iba. Dia yang mustinya bisa bergelantungan dari dahan pohon ke dahan yang lain, bermain dan bercanda dengan sanak saudaranya sekarang musti pake baju dan bergerak seperti kemauan sang Pawang.

Ketika matanya menatapku dengan tanpa berkata-kata seolah-olah dia ingin mengadukan nasibnya yang terhina ini. Tak lagi bebas berkeliaran di hutan-hutan Indonesia. Pilihannya hanyalah menyambung hidup atau mati karena tak ada lagi hutan rimba di Indonesia. Duh Gusti, negeri ini yang indah semakin hancur aja. Tak adakah lagi orang yang peduli dengan hutan kita? Tak bisakah kita menyelamatkannya untuk anak cucu kita kelak?? Seperti firman Allah SWT dalam Al-Qur'an, "Afaala Ta'qiluun".. "Apakah kamu tidak berpikir?"

No comments: