Candi Murca - Ken Arok, Hantu Padang Karautan

Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengupdate blog-ku, dan bener ketika kucek terakhir kali aku update blogku adalah di bulan Oktober 2008. Hmmm.... Berarti sudah hampir 2 bulan aku tidak ngeblog. Oleh karena itu salah satu resolusiku di tahun baru 1430 H ini adalah rajin update blog sekaligus sebagai sarana untuk menulis. Selain rajin ngupdate blog, aku juga mau rajin lagi ngupdate Wikipedia Indonesia. Semoga dengan begini, kemampuan menulisku semangkin terasah lagi.

Kali ini aku pengen berbagi akan suatu buku yang mencuri pandanganku ketika aku bersirobok dengannya. Sebenarnya aku sudah lama tertarik dengan buku-buku cerita karangan Langit Kresna Hariadi yang serial pertama kalau ndak salah mengenai Gajah Mada. Namun, kemarin ketika aku pergi ke toko buku, malah buku serial keduanya yang berjudul “Candi Murca, Ken Arok, Hantu Padang Karautan” yang membetot dan menarik perhatianku. Tak berapa lama buku itupun berpindah tangan dari rak toko buku ke tas jinjingku.

Pertama-tama yang menarik perhatianku adalah adanya sumbangan kata pengantar dari Mbak Luluk Sumiarso, Pimpinan Ketoprak Guyonan Campur Tokoh “Puspo Budoyo” yang notabene beliau juga adalah alumni dari Mitreka Satata lulusan tahun 72. Puspo Budoyo sendiri tidak jauh-jauh dari Mitreka Satata karena pernah mementaskan sebuah karya berbarengan dengan para alumni Mitreka Satata. Membaca kata pengantar dari Mbak Luluk tadi menjadikan saya semangkin tertarik dengan buku ini “Candi Murca, Ken Arok, Hantu Padang Karautan”.

Tak kurang dari dua hari waktu yang aku habiskan untuk melalap habis ceritanya yang setebal 794 halaman. Total buku ini terdiri atas 832 halaman termasuk otobiografi penulis dan catatan kaki. Dalam catatan kaki ini banyak saya temukan berbagai macam perbendaharaan kata Bahasa Jawa yang relatif baru untukku, seperti murca yang artinya lenyap. Trus adalagi Taksaka yang artinya dalam Bahasa Jawa adalah ular. Jadi kalau KA dengan nama Taksaka kalau boleh diartikan dalam bahasa Jawa itu artinya KA Ular ya? He.. He.. He.. Ada yang aku suka, yaitu kata cleret tahun yang merupakan nama lain dari beliung atau angin lesus.

Yang membuat menarik dari buku ini adalah begitu liarnya penulis membuat setting cerita yang berlompatan dari suatu hari di tahun 2011 Masehi, dan suatu waktu di tahun 1136 Saka atau seputaran tahun 1214 Masehi. Kurun waktu yang terentang selama 800 tahun saja sudah memberikan suatu sensasi tertentu kepada para pembacanya, belum lagi hubungan yang terjadi antara tokoh di masa lampau dengan tokoh di masa sekarang.

Settingan di masa lalu dimulai ketika Empu Gandring bertemu dengan Brahmana Lohgawe. Mereka hidup di jaman Ken Arok, seorang maling sekaligus perampok di jaman Tunggul Ametung. Kemudian settingan berjalan ke perguruan Kembang Ayun tahun 1136 Saka ketika Parameswara sedang melatih Ilmu Kanuragan ditemani oleh kekasihnya Ken Rahastri. Tak berapa lama datanglah Cleret Tahun yang liar dan terkendali, dan entah setan darimana yang hinggap di otak Parameswara sehingga ia mencoba melawan gejala alam itu dengan salah satu ilmu kanuragannya yang telah dilatihnya. Sehingga akibatnya fatal, dia terhisap oleh cleret tahun itu dan bahkan sampai terkena sengatan petir yang sambar menyambar di bibir pantai tersebut. Tubuhnya hilang entah kemana dan mayatnyapun tidak diketemukan.

Ceritapun beralih ke daerah Singosari, Malang, dengan settingan tahun 2011 Masehi, siang hari. Di suatu daerah seorang pemuda bernama Parra Hiswara, sedang berencana membuat septi-tank tambahan dengan menggali lubang di rumahnya. Dalam kedalaman tertentu, galiannya menembus suatu lobang besar yang ternyata adalah lorong bawah tanah yang besar sekali yang mempertemukannya dengan Parameswara yang sudah menunggunya selama 800 tahun lebih. Parra Hiswara bisa selama keluar dari lubang itu nun jauh di daerah yang bernama Selo (titik pertemuan antara wilayah Magelang, Boyolali dan Yogyakarta di Jawa Tengah – sekarang) di dekat Gunung Merapi di malam hari. Dia muncul di suatu candi yang bisa murca... Selain kemunculan yang jauh sekali dari rumahnya di Singosari, dia juga dikagetkan dengan kemampuannya untuk membangkitkan cleret tahun. Suatu ilmu kanuragan yang dahulunya dikembangkan oleh Parameswara.

Membaca buku ini membuatku mendapatkan minuman yang teramat segar atas dahagaku akan bacaan yang menarik diantara serbuan komik-komik asing saat ini. Dengan membacanya membuatku membumi lagi dan mengangkasa membawa imajinasiku terbang tinggi sekali tanpa ada batasnya. Ketika settingan tahun adalah 1136 Saka, maka seolah-olah aku mengalaminya sendiri, mengendap-endap menonton pertarungan antara Ken Arok dengan para begundal yang mencoba menjadikan Padang Karautan – rumah dan area Ken Arok sebagai tempat tinggalnya. Gambaran kuda Sapu Angin milik Parameswara membuatku seolah ikut merasanakan berkuda diatasnya. Pusingan cleret tahun yang menari-nari dan membesar karena ajian Pasir Wutah – Cleret Tahun milik Parameswara seolah tergambar jelas di depan mataku. Tak salah lagi kalau dikatakan bahwa “Buku adalah Jendela Dunia”. Buku ini benar-benar membawa imajinasiku menjadi teramat liar dengan membayangkan ada Kelelawar Putih yang bereinkarnasi di tahun 2011 dan muncul pertama kali bersamaan dengan munculnya Parra Hiswara dari Candi Murca di Jawa Tengah dan mengikutinya ke Singosari, Malang. Lalu membayangkan kesaktian dari Ken Arok yang tidak terukur tingkat ilmu kanuragannya oleh siapapun. Dan membayangkan Parameswara yang dengan ajian Pasir Wutahnya bisa membangkitkan Cleret Tahun yang jika semangkin besar maka tiada seorangpun yang bisa mengendalikannya, tidak juga si Parameswara. Sungguh, membaca buku ini membawa imajinasiku liar dan tak terbatas... Subhanallah....

Untuk itu aku berikan 4 bintang dari 5 bintang buat Langit Kresna Hadi. Aku hanya mampu memberikan 4 bintang untuk buku ini karena yang berhak mendapatkan 5 bintang hanyalah Al-Qur'anul Karim...

5 comments:

isdahahamad dot net said...

sukrinsyut dunk cover bukunya :d

KATIMAN SURABAYA said...

saya sangat berterimah kasih banyak kepada MBAH WITJAKSONO berkat bantuan beliau,sekarang saya sdh mau membuka usaha untuk masa depan kami dan sankin senannya saya tidak bisa mengunkapkan dengan kata kata,bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi MBAH WITJAKSONO di 0852_2223_1459 atau kunjungi klik=>> http://togelsingapu.blogspot.com

Megan Fox said...

Keren ...mantap

Butik Komputer | Toko online menyediakan komputer rakitan dan modem | Toko online komputer pertama di Garut

Dedandes.com said...

Candi hindu dan budha memiliki perbedaan, simak ulasan perbedaan candi hindu dan budha lebih dalam

Ibu Darmita said...

saya IBU DARMITA benar-benar sudah membuktikan demi allah bahwa mbah ranggalawe bisa merubah kehidupan saya dalam sekejap awalnya saya sangat miskin makanpun susah ,alhamdulillah dengan bantuan beliau saya bisa merubah kehidupan saya jauh lebih baik daripada sebelumnya beliau membantu saya uang goib sebesar 500 juta .saya sangat berterimah kasih kepada mbah ranggalawe atas bantuan beliau ,dan saya ibu darmita menyapaikan kepada saudarah-saudarah yang ingin merubah nasib seperti saya hubungi mbah ranggalawe 0853_9628_3237 saya sudah membuktikannya sendiri. KLIK PESUGIHAN TAMPA TUMBAL DISINI